SARWENDAH CERITAKAN VERSINYA…
CURHAT BANG Denny Sumargo
6,569,953 views • 10 days ago Save 76 min 7 min read
Video Summary
Sarwendah membantah keras tuduhan bahwa ia menghina Ruben Onsu di depan anak-anak mereka, menyebutnya tidak mungkin terjadi dan bersumpah tidak pernah melakukannya. Ia menjelaskan bahwa sebagai seorang ibu, ia sangat berhati-hati agar anak-anak tidak mendengar kata-kata kasar atau menyaksikan pertengkaran.
Dalam klarifikasi mendalam mengenai berbagai isu, Sarwendah juga membantah tuduhan pesugihan terkait kunjungannya ke Gunung Kawi, menegaskan bahwa itu murni untuk keperluan syuting program horor. Ia juga mengklarifikasi masalah finansial dan pembagian aset pasca-perceraian, termasuk tunggakan KPR rumah yang kini terancam dilelang, serta utang-utang lain yang muncul atas nama Ruben. Sarwendah menyatakan bahwa ia telah menanggung banyak biaya demi anak-anak dan berharap masalah ini bisa segera diselesaikan secara pribadi demi kedamaian semua pihak, terutama anak-anak.
Short Highlights
- Sarwendah membantah keras tuduhan menghina Ruben Onsu di depan anak-anak.
- Ia menegaskan bahwa kunjungannya ke Gunung Kawi murni untuk syuting, bukan pesugihan.
- Masalah finansial pasca-perceraian, termasuk tunggakan KPR rumah yang terancam dilelang, dibahas.
- Sarwendah mengklarifikasi bahwa ia telah menanggung banyak biaya untuk anak-anak.
- Ia berharap semua masalah dapat diselesaikan secara pribadi demi kedamaian.
Related Video Summary
- KALAU GUE SUDAH BEGINI, INI SUDAH FATAL‼️ - RUBEN ONSU
- Viral, Burung Unta Berkeliaran di Jalan Raya Bandung | Kabar Hari Ini
- Ali Akbar: Saya Lucu, Saya Pernah ke Eropa. Oki Masih Ngurus Toga di Kepalanya Pak!
- RAHSIA Rasulullah Jadi Businessman Berjaya ~ Customer Happy Pesaing Tak Sakit Hati - Ustaz Badlishah
Key Details
Klarifikasi Isu Penghinaan di Depan Anak [00:00]
- Sarwendah dengan tegas membantah tuduhan telah menghina Ruben Onsu di depan anak-anak.
- Ia menyatakan bahwa hal tersebut tidak mungkin terjadi karena ia selalu berusaha menjaga anak-anak dari pertengkaran.
"Kamu yakin ya? Aku yakin bisa pertanggungjawabkan. Bisa tanya ke anak-anak. Pernah enggak aku ngatain kayak gitu di depan anak-anak? Tidak mungkin. Saya aja kalau berantem, saya enggak mau di depan anak-anak."
Tanggapan Mengenai Isu Pesugihan [00:18]
- Sarwendah mengklarifikasi bahwa tuduhan pesugihan terkait kunjungannya ke Gunung Kawi adalah tidak benar.
- Ia menjelaskan bahwa kunjungannya tersebut adalah murni untuk keperluan syuting program horor.
"Jadi pas datang kita disuruh kayak matur nuhun lah. Izin. Jadi ada adat di situ yang harus dilakukan."
Komunikasi dengan Ruben Onsu [00:31]
- Sarwendah mengungkapkan bahwa komunikasi dengan Ruben Onsu menjadi sulit, terutama terkait jadwal bertemu anak.
- Ia merasa tidak ada respons yang jelas setiap kali mencoba menghubungi.
"Saya ngubungin ee beliau. Tapi tidak ada respon dari beliau untuk masalah ee waktu dia sama anak-anak gitu, Pak."
Jadwal Pertemuan Anak dan Ketidakjelasan Respons [03:30]
- Sarwendah menceritakan kesulitan dalam mengatur jadwal pertemuan Ruben dengan anak-anak.
- Ia seringkali tidak mendapat respons atau balasan yang tidak jelas.
"Tapi tidak ada respon. Jadi saya juga bingung harus kayak gimana. Akhirnya dilempar ke pengacara dan kadang-kadang dilempar ke anak dan anak-anak kan ya masih anak-anak."
Perubahan Nomor Telepon dan Kesulitan Kontak [04:41]
- Ruben Onsu mengganti nomor teleponnya tanpa menginformasikan Sarwendah, yang semakin mempersulit komunikasi.
- Sarwendah baru mengetahui perubahan nomor setelah bertanya kepada anaknya.
"Baru aku minta kirimin nomornya. Terus saya bilang dong, ee bukannya saya mau ikut campur dengan kehidupan kamu yang baru, tapi tolong diinfokan kalau ganti nomor."
Acara Ulang Tahun Anak yang Terabaikan [05:54]
- Sarwendah merasa kecewa karena Ruben tidak merespons undangan acara ulang tahun anak-anak.
- Respons baru diberikan di hari H dengan alasan syuting, padahal undangan sudah dikirim jauh-jauh hari.
"Sudah chat, ayah ada ee di sini gitu loh acara kalau bisa datang ya gitu. Dikabarin bisa atau tidak biar disiapkan kalau mau meja atau apa. Tidak direspon."
Masalah Pribadi yang Menjadi Publik [08:14]
- Sarwendah merasa bahwa banyak masalah pribadinya yang seharusnya dibahas secara personal, namun akhirnya menjadi konsumsi publik.
- Ia memilih diam untuk menghindari keributan lebih lanjut.
"Sebenarnya semua ini aku inginnya dibicarakan secara pribadi tapi selalu dilempar. Ngomong aja sama pengacara, ngomong aja sama pengacara."
Dampak Berita Negatif pada Anak [11:02]
- Sarwendah mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dampak berita negatif pada anak-anaknya.
- Ia merasa sedih karena anak-anaknya menjadi korban perundungan di sekolah akibat berita yang beredar.
"Tapi dengan kata-kata itu, anak saya dibully. Di media sosial sekolahnya dibully. dibilang anak enggak tahu diri, anak ini, anak itu."
Tuduhan Mempengaruhi Anak untuk Menjauhi Ayah [13:04]
- Sarwendah membantah tuduhan bahwa ia mempengaruhi anak-anak untuk tidak dekat dengan ayah mereka.
- Ia menegaskan tidak pernah mempersulit Ruben untuk bertemu anak-anak.
"Dari awal sampai sekarang aku selalu bilang dan konsisten aku tidak pernah mempersulit dan aku tidak pernah mempengaruhi anak-anak."
Pengalaman Anak Mendengar Pertengkaran Orang Tua [14:01]
- Sarwendah menceritakan bahwa anak-anaknya pernah mendengar pertengkaran antara dirinya dan Ruben saat masih bersama.
- Hal ini membuat salah satu anaknya, Cici, merasa tertekan.
"Jadi ternyata Cici mendengar itu. Jadi dia pura-pura tidur. Dari mana kamu tahu Cici dengar? Karena Cici yang ngomong akhirnya."
Kondisi Psikologis Anak Pasca-Perceraian [15:26]
- Sarwendah membawa anak-anaknya ke psikolog karena salah satu anaknya mengalami tantrum.
- Psikolog menyatakan bahwa anak tersebut sangat sensitif dan banyak belajar hal lebih cepat dari usianya.
"Di umur segitu aku melihat dia anak yang sangat sensitif dan banyak hal yang dia pelajari lebih cepat daripada umur dia seharusnya."
Isu Pesugihan dan Kunjungan ke Gunung Kawi [19:03]
- Sarwendah kembali menegaskan bahwa kunjungannya ke Gunung Kawi adalah murni untuk syuting program horor.
- Ia menjelaskan bahwa yang dilakukan hanyalah tradisi atau adat setempat sebagai bentuk penghormatan.
"Jadi pas datang kita disuruh kayak matur nuhun lah. Oh, kayak izin ya. Izin. Jadi ada ee adat di situ yang harus dilakukan."
Masalah Utang Mobil dan Tagihan Debt Collector [25:19]
- Sarwendah menceritakan kedatangan debt collector ke rumahnya terkait tagihan mobil yang tidak ia ketahui.
- Mobil tersebut atas nama Ruben dan merupakan kredit macet.
"Ini ada tagihan mobil. Masalahnya mobilnya enggak ada di aku juga. Mobil itu atas nama siapa? Kalau di surat yang dep collektor lihat bukan atas nama aku pastinya."
Pembagian Harta dan Tanggungan Bank [33:11]
- Sarwendah menjelaskan proses pembagian aset dengan Ruben berdasarkan surat notaris.
- Ia mengungkapkan bahwa rumah di Cilandak masih memiliki tanggungan bank yang cukup besar.
"Rumah yang sekarang ditinggalkan ini itu masih ada tanggungan di bank. Nominalnya juga fantastis. Menurut aku ini nominalnya banyak gitu."
Pembangunan Rumah di Cilandak dan Peran Ayah Sarwendah [36:47]
- Rumah di Cilandak dibangun ulang atas ide bersama, namun sertifikatnya dijaminkan ke bank.
- Ayah Sarwendah turut membantu pembiayaan pembangunan rumah tersebut karena ingin membahagiakan cucu-cucunya.
"Papi aku kasih jebret paling murah. Akhirnya rumah akhirnya divendor ke papi. Jadi divendor ke papi."
Tunggakan KPR dan Ancaman Lelang Rumah [51:04]
- Sarwendah menerima surat peringatan tunggakan pembayaran KPR rumah yang ditempatinya.
- Rumah tersebut terancam dilelang karena adanya tunggakan dari tahun 2024.
"Surat peringatan pembayaran. Oh, ada tunggakan. Tunggakan gitu. Aku konfirmasi ke dia, "Ayah, ini kenapa ada surat?"
Upaya Sarwendah Melunasi Tunggakan Rumah [53:50]
- Sarwendah menyatakan keinginannya untuk membayar tunggakan rumah demi anak-anaknya, meskipun itu bukan utangnya.
- Ia merasa sayang pada rumah tersebut karena merupakan bangunan terakhir ayahnya.
"Saya mau membayar tunggakan itu. Saya yang bayar. Tadinya saya udah bilang, "Ya udah enggak apa-apa."
Masalah Utang Pinjol dan Kartu Kredit [59:42]
- Sarwendah mengungkapkan bahwa ia didatangi debt collector terkait utang pinjol dan kartu kredit atas nama Ruben.
- Ia merasa trauma dan tidak nyaman dengan kejadian tersebut.
"Dep ko collektor mobil. Siapa yang pinjol? Atas nama siapa pinjolnya? Kok lihat aja gimana. Yang pasti bukan atas nama aku."
Laporan Polisi Akibat Fitnah dan Pencemaran Nama Baik [01:02:08]
- Sarwendah melaporkan akun-akun media sosial yang menyebarkan fitnah dan mencemarkan nama baik keluarga, termasuk almarhum ayahnya.
- Ia dituduh melakukan pesugihan dan menumbalkan ayahnya.
"Tumbal persediaan dibilang apa? Tumbal persediaan dibilang apa? dibilang aku menumbalkan papaku untuk pesugihan Gunung Kawi."
Penjelasan Mengenai Pengeluaran Nafkah Anak [01:10:21]
- Sarwendah menjelaskan bahwa rincian pengeluaran nafkah anak yang ia berikan kepada Ruben bersifat rinci karena Ruben juga detail dalam bertanya.
- Ia menegaskan bahwa pengeluaran tersebut adalah untuk kebutuhan anak-anak yang bervariasi.
"Jadi intinya kamu ee report nanti rembes gitu. Repes. Oh oke. Tapi kalau dilihat dari pengeluaran itu pengeluaran sebesar itu kemauan siapa?"
Harapan untuk Penyelesaian Masalah Secara Pribadi [01:18:31]
- Sarwendah berharap agar masalah yang ada dapat diselesaikan secara pribadi dan baik-baik.
- Ia ingin menciptakan kedamaian untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya.
"Aku pengin banget kok komunikasi dengan baik. Aku pengin banget bisa ngobrol gitu. Aku pengin banget bisa ngobrol beneran enggak dilempar-lempar ke pengacara."
Hasil Mediasi dengan Hakim Mediator [01:22:18]
- Sarwendah menyatakan bahwa hasil mediasi dengan hakim mediator bersifat rahasia dan tidak dapat diungkapkan ke publik.
- Ia menghargai privasi proses mediasi tersebut.
"Aku sudah berjanji di hakim mediator kalau misalnya tidak ya hasil itu biarkan kami bertiga yang tahu. Aku hakimnya mediatornya dan ee beliau gitu."