Menu
Mengorbankan Waktu, Perasaan dan Uang Hanya Untuk Pendidikan Ribuan Anak Di Papua!

Mengorbankan Waktu, Perasaan dan Uang Hanya Untuk Pendidikan Ribuan Anak Di Papua!

Helmy Yahya Bicara

8,286 views 15 hours ago Save 46 min 5 min read

Video Summary

Pendeta Daniel Alexander, yang akrab disapa Papi Daniel, mendedikasikan hidupnya untuk memeratakan keadilan dan memberi kesempatan bagi mereka yang membutuhkan, terinspirasi dari pengalaman masa kecilnya yang kehilangan ayah di usia sembilan tahun. Perjalanannya dimulai dari Surabaya ke Papua, didorong oleh keinginan untuk memberdayakan masyarakat Papua yang kaya sumber daya namun hidup dalam kemiskinan.

Papi Daniel telah menjadi "Papa Asuh" bagi ribuan anak, tanpa memandang agama atau suku, memberikan mereka pendidikan, tempat tinggal, dan dukungan hingga mereka mandiri. Kisahnya meliputi pengalaman unik seperti tradisi lamaran adat yang rumit, hingga perjuangannya menyekolahkan calon pilot dari pedalaman Kalimantan yang menghadapi kendala finansial besar. Ditemani istrinya, Mami Lewis, yang rela meninggalkan kenyamanan hidup di Kanada untuk mendampinginya di Papua, Papi Daniel terus berjuang hingga usia senja, dengan filosofi "jadilah sumur" yang berarti terus memberi tanpa pernah merasa habis, karena yakin akan selalu ada rezeki yang mengalir.

Short Highlights

  • Papi Daniel Alexander mendedikasikan hidupnya untuk memeratakan keadilan dan memberi kesempatan bagi mereka yang membutuhkan.
  • Ia telah menjadi "Papa Asuh" bagi ribuan anak dari berbagai suku dan agama, memberikan pendidikan dan dukungan.
  • Pengalamannya dimulai dari Surabaya ke Papua, terinspirasi dari kekayaan alam Papua yang kontras dengan kemiskinan penduduknya.
  • Ia mendirikan sekolah "Pelayanan Desa Terpadu" di Papua, dimulai dari tingkat TK hingga SMA, dengan fokus pada pembangunan karakter.
  • Filosofi hidupnya adalah "jadilah sumur", yang berarti terus memberi tanpa merasa habis, karena yakin akan selalu ada rezeki.
  • Didukung oleh istrinya, Mami Lewis, yang rela berkorban demi misi mulia ini.
  • Ia percaya bahwa kepemimpinan sejati adalah seperti seorang ayah yang bangga melihat anaknya lebih hebat darinya.

Key Details

Awal Mula Perjuangan di Papua [00:00:00]

  • Papi Daniel Alexander memutuskan pindah dari Surabaya ke Papua dengan motivasi memeratakan keadilan dan melakukan sesuatu yang belum dikerjakan orang lain.
  • Ia tergerak oleh kontras antara kekayaan alam Papua yang luar biasa dengan kemiskinan penduduknya. *> "Tanah daerah begitu kaya. Di dunia ini gak ada loh. Sebuah pulau sekaya Papua. Hanya Pak. Tapi kok orangnya miskin?"

Menjadi "Papa Asuh" Bagi Ribuan Anak [00:00:00]

  • Papi Daniel telah menjadi "Papa Asuh" bagi ribuan anak, tanpa memandang agama atau suku, memberikan mereka tempat tinggal dan dukungan.
  • Ia siap menjadi ayah bagi siapa saja yang membutuhkan, terinspirasi dari pengalaman pribadinya kehilangan ayah di usia sembilan tahun. *> "Pokoknya Tuhan kasih kirim seseorang yang perlu ayah. Saya siap."

Pengalaman Unik Tradisi Adat [00:00:00]

  • Papi Daniel berbagi pengalaman unik saat melamar gadis dari berbagai suku di Indonesia, termasuk tradisi lamaran yang mengharuskan calon mempelai pria datang sebelum matahari terbit di Maluku Utara.
  • Ia juga menceritakan pengalaman tawar-menawar mahar yang memakan waktu tiga hari di Kalimantan Utara. *> "Di salah satu kampung di Maluku Utara. Maluku Utara. Iya. Saya gak sepuluh sukunya ya, tapi mereka. Untuk melamar. Papi kaget. Jam tiga subuh? Hah? Harus jam tiga subuh?"

Kisah Inspiratif Hendra Lu [00:00:00]

  • Salah satu anak asuh Papi Daniel, Hendra Lu, yang dulunya "anak jalanan" tanpa masa depan, kini menjadi seorang sutradara.
  • Papi Daniel membawanya ke Jakarta untuk mencari kampus dan mendukung passionnya di bidang perfilman. *> "Kamu pengasihnya apa-apa. Karena dia tinggal. Ayahnya. Wah saya peluk dia. Dia menangis."

Perjuangan Menyekolahkan Calon Pilot [00:00:00]

  • Papi Daniel menceritakan perjuangannya menyekolahkan seorang anak dari pedalaman Kalimantan menjadi pilot.
  • Ia menghadapi kendala biaya yang sangat besar, namun selalu ada jalan rezeki yang Tuhan berikan, bahkan melalui cara yang tak terduga. *> "Biayanya sekian 10 juta. Reflek. Kenapa mahal?"

Dukungan Istri, Mami Lewis [00:00:00]

  • Papi Daniel mengungkapkan betapa pentingnya dukungan sang istri, Mami Lewis, seorang warga negara Kanada yang rela meninggalkan segalanya untuk mendampinginya di Papua.
  • Ia sempat ragu apakah ada perempuan yang mau diajak hidup susah, namun Mami Lewis menerimanya dengan tulus. *> "Berarti harus ikut ke Indonesia. Tapi tinggal di Papua. Ini kan berat. Dua syarat yang berat."

Filosofi "Jadilah Sumur" [00:00:00]

  • Papi Daniel menjelaskan filosofi "jadilah sumur" yang dipegangnya: terus memberi tanpa pernah merasa habis, karena yakin akan selalu ada sumber rezeki yang baru.
  • Ia membandingkannya dengan air sumur yang tidak akan pernah habis meskipun banyak orang mengambilnya. *> "Prinsip sumur. Sekecil-kecilnya sumur. Seandainya ini ada. Gak mungkin kok kami, kita bisa habiskan sehari air itu."

Pendidikan Dasar di Papua [00:00:00]

  • Setelah gagal mendirikan SMA di Wamena karena guru tidak sanggup mengajar, Papi Daniel memulai "Pelayanan Desa Terpadu" dari tingkat TK di Papua pada tahun 1995.
  • Ia menghadapi protes dan ancaman karena masyarakat Papua merasa pernah dibohongi oleh LSM lain, namun hasil nyata dari sekolah tersebut akhirnya mendapatkan kepercayaan. *> "Sekolah ini dimulai dari taman kanak-kanak. Kami tidak boleh menerima anak yang di tengah-tengah. Harus dari TK itu pintunya."

Kepemimpinan Sejati Seorang Ayah [00:00:00]

  • Papi Daniel membedakan antara "ayah" dan "om" dalam kepemimpinan: seorang ayah bangga jika anaknya lebih hebat, sementara "om" merasa tersaingi.
  • Ia menekankan bahwa kepemimpinan sejati adalah seperti seorang ayah yang mendukung dan mendorong anaknya untuk lebih baik. *> "Kalau papa. Akan dorong. Kerjakan. Papa lebih bagus. Lebih suka cita kalau kamu lebih baik dari papa."

Melayani Tanpa Lelah dan Jenuh [00:00:00]

  • Papi Daniel mengaku tidak pernah merasa lelah atau jenuh dalam pelayanannya, bahkan di usianya yang sudah senja.
  • Sumber semangatnya adalah melihat anak-anak asuhnya berhasil dan bahagia, yang membuatnya merasa hidupnya bermakna. *> "Setiap melihat anak. Yang kami biaya kuliah. Dan kalau kami bisa hadir wisudanya. Kalau ada kalimat ini. Jadi apa hidup saya. Kalau gak ketemu Papa."

Other People Also See