Menu
"SAYA DIPANGGIL TEDDY, SAYA TOLAK TAWARAN PRABOWO" ?! | YUNARTO WIJAYA

"SAYA DIPANGGIL TEDDY, SAYA TOLAK TAWARAN PRABOWO" ?! | YUNARTO WIJAYA

Helmy Yahya Bicara

1,923,795 views • 6 days ago Save 45 min 5 min read

Video Summary

Analis politik Yunarto Wijaya mengungkapkan bahwa ia tidak dapat mendukung Prabowo Subianto karena perbedaan imajinasi tentang Indonesia. Meskipun pernah ditawari bantuan finansial, Wijaya menolak karena merasa visi mereka tidak sejalan. Ia menekankan bahwa perbedaan ini bukan tentang siapa yang lebih buruk, melainkan tentang perbedaan cara pandang dan "imajinasi" terhadap pembangunan negara.

Wijaya juga membandingkan gaya kepemimpinan Prabowo dengan Presiden Jokowi. Menurutnya, Prabowo memiliki paradigma yang kuat dan konsisten, namun terkadang kurang adaptif terhadap fakta empiris karena tidak membaca media sosial atau berita. Sebaliknya, Jokowi lebih "bottom-up" dan induktif, mengandalkan fakta empiris. Meskipun demikian, Wijaya mengakui bahwa Prabowo memiliki pengetahuan yang luas dari buku dan menunjukkan sisi humanis saat bertemu, berbeda dari citra "menyeramkan" yang sempat melekat.

Short Highlights

  • Yunarto Wijaya menolak tawaran dukungan untuk Prabowo Subianto karena perbedaan imajinasi dan visi.
  • Ia menilai Prabowo memiliki paradigma yang kuat namun kurang adaptif terhadap fakta empiris.
  • Berbeda dengan Jokowi yang dianggap lebih "bottom-up" dan induktif.
  • Wijaya mengakui sisi humanis Prabowo saat pertemuan pribadi.
  • Ia menekankan pentingnya kesesuaian visi dalam pekerjaan profesional.
  • Analis politik ini juga membandingkan gaya komunikasi dan pendekatan kedua tokoh.
  • Keputusan Wijaya didasarkan pada kesesuaian hati dan isi kantong.

Key Details

Penolakan Dukungan untuk Prabowo [00:00:00]

  • Yunarto Wijaya menyatakan tidak bisa mendukung Prabowo Subianto karena perbedaan imajinasi tentang Indonesia.
  • Ia menegaskan bahwa ini bukan tentang siapa yang lebih buruk, melainkan perbedaan cara pandang.
  • "> Saya gak bisa mas, pegang Prabowo. Dengan imajinasi yang berbeda dengan Pak Prabowo. Sampai sekarang. Bukan bicara dia lebih buruk, imajinasinya berbeda."

Pertemuan dan Tawaran [00:00:00]

  • Wijaya menceritakan pertemuan empat mata dengan Prabowo yang berlangsung cukup lama.
  • Ia mengakui sempat ditawari bantuan secara "belak-belakan" dan diminta "angka".
  • "> Empat mata. Empat mata. Dan clear, meminta bantuan. Sudah sempat ditawari secara belak-belakan, meminta angka."

Citra dan Realitas Prabowo [00:00:00]

  • Wijaya membandingkan citra "mitos" Prabowo sebagai "bekas aktivis" yang "agak menyeramkan" dengan pertemuan langsung.
  • Ia menemukan sisi "humanis" pada Prabowo saat bertemu.
  • "> Dulu kan mitos nih, bekas aktivis. Agak menyeramkan lah, portfolio Pak Prabowo ya. Pada saat ketemu, jujur lebih humanis."

Buku "Paradoks Indonesia dan Solusinya" [00:00:00]

  • Buku "Paradoks Indonesia dan Solusinya" digambarkan sebagai cerminan isi kepala Prabowo.
  • Apa yang dijalankan Prabowo selama dua tahun dinilai konsisten dengan keyakinannya membangun negara.
  • "> Prabowo kita baca bukunya Paradoks Indonesia dan Solusinya. Itu buku yang paling menggabarkan isi kepalanya."

Profesionalisme dan Subjektivitas Pengamat [00:00:00]

  • Wijaya mengakui profesinya sebagai surveyor dan konsultan terkadang menimbulkan kerancuan.
  • Ia merasa terlalu subjektif jika tidak memiliki pandangan yang sama dengan klien, terutama dalam konteks strategis seperti Pilpres.
  • "> Tapi jujur gue itu agak terlalu subjektif. Kalau gue gak merasa punya pandangan yang sama."

Plus Minus Menjadi Pengamat Non-Netral [00:00:00]

  • Wijaya mengakui pandangannya yang dianggap "tidak netral" sebagai "plus sekaligus minus".
  • Plusnya adalah kesesuaian "hati sama isi kantong" dan "all out" dalam bekerja.
  • Minusnya adalah pandangan orang yang menganggapnya berpihak atau tendensius.
  • "> Plusnya gue merasa ada kesesuaian antara hati sama isi kantong. Kira-kira gitu kalau bicara secara profesional."

Bisnis Lain dan Gaya Profesional [00:00:00]

  • Wijaya mengakui jumlah kliennya mungkin kalah dari konsultan lain karena gayanya yang "ngomong apa adanya".
  • Ia melakukan "another thing" seperti bermain saham sejak 2009 dan sempat menjadi "city banker".
  • "> Gue kalau ditanya jumlah klien mungkin sama konsultan yang lain kalah. Oke. Dan gue coba tutupi itu mas."

Perbedaan Imajinasi dan Visi [00:00:00]

  • Wijaya kembali menegaskan ketidakmampuannya mendukung Prabowo karena perbedaan "imajinasi" dan "visi".
  • Ia juga merasa "tidak bisa bantu Anies" karena masalah "kecocokan visi".
  • "> Saya gak bisa mas pegang Prabowo. Dengan imajinasi yang berbeda dengan Prabowo. Sampai sekarang."

Pertemuan dengan Prabowo di 2023 [00:00:00]

  • Wijaya diundang bertemu Prabowo pada Februari dan Maret 2023, dengan pertemuan pertama 4,5 jam dan kedua 2 jam.
  • Ia sempat mencoba melakukan survei terlebih dahulu saat itu.
  • "> Diundang di bulan Februari dan Maret. Diajak sama Mas Teddy. Ngobrol 4 jam setengah pertama kali pertemuan."

Pengakuan Jokowi dan "Gap" dengan Prabowo [00:00:00]

  • Wijaya menangkap pengakuan Jokowi yang akan mendorong Ganjar dengan wakil Prabowo.
  • Ia merasa ada "gap" antara imajinasinya dengan Indonesia dan imajinasi Prabowo, meskipun mengakui sisi humanis Prabowo.
  • "> Karena saya tahu cerita banyak di dalam dengan Pak Jokowi, saat itu saya ngerasa pertama pilihan Pak Jokowi ke Mas Ganjar. Ya kedua kalau bicara imajinasi mengenai Indonesia, setelah ngobrol dengan Pak Prabowo pun saya merasa ada gap."

Paradigma Prabowo vs. Fakta Empiris Jokowi [00:00:00]

  • Wijaya menyimpulkan Prabowo membaca banyak buku tetapi tidak membaca koran atau medsos, sehingga "kemampuan untuk beradaptasinya itu kecil" terhadap fakta empiris.
  • Ia membandingkan dengan Jokowi yang "berdasarkan apa yang dia lihat, lalu kemudian dia cari solusinya" (fakta empiris, bottom-up, induktif).
  • "> Beliau baca-baca buku, tapi gak baca koran sama gak baca... You know what I mean right? Gak baca medsos."

Konsistensi Prabowo dan Persepsi Pemilih Jokowi [00:00:00]

  • Wijaya menyatakan Prabowo "just being very consistent to become Prabowo".
  • Perubahan yang terjadi adalah pada segmen pemilih Jokowi yang merasa keberlanjutan tidak terbangun seperti yang diharapkan.
  • "> Yang berubah itu bukan Pak Prabowo. Kan banyak nih yang bilang, gila gue salah pilih. Berubah Prabonya gitu kan."

Perbandingan Kandidat 2024 [00:00:00]

  • Wijaya menganalisis kekalahan Ganjar karena pesannya tidak "beredar di market" dan isu "petugas partai" menjadi beban.
  • Ia melihat Anies sebagai "oposan" yang suaranya terpecah dengan Ganjar.
  • "> Pertama faktor kekalahan Ganjar, itu adalah berbicara mengenai hal-hal, yang ternyata itu tidak beredar di market, ini kalau bahasa orang, marketing."

Gimmick dan Kepercayaan Publik [00:00:00]

  • Gimmick seperti joget Prabowo berhasil menutupi citra "menyeramkan" dan menarik perhatian publik.
  • Pada tingkat "distrust" yang tinggi, faktor pembeda seringkali bersifat gimmick atau logistik.
  • "> Tapi Pak Prabowo suka atau tidak saat itu minimal secara gimmick beradaptasi. Mengenai mitos-mitos beliau yang menyeramkan, punya jejak yang tidak cukup baik secara portfolio."

Other People Also See