Menu
GUE KALI INI PERCAYA‼️MEREKA MASIH ADA DI SEKITAR KITA‼️ SUKU GAIB MORO TIMOR

GUE KALI INI PERCAYA‼️MEREKA MASIH ADA DI SEKITAR KITA‼️ SUKU GAIB MORO TIMOR

Deddy Corbuzier

4,007,142 views • 19 days ago Save 63 min 12 min read

Video Summary

Suku Moro, yang konon menghilang di abad ke-17 dari Maluku Utara, kini menjadi subjek perdebatan antara penjelasan historis dan kepercayaan mistis.

Secara historis, suku ini diduga lenyap akibat peperangan melawan bangsa Eropa dan suku lain, yang memaksa mereka mengungsi ke hutan. Namun, kepercayaan lokal menganggap mereka sebagai entitas gaib yang hidup berdampingan dengan manusia, bahkan mampu berinteraksi atau bahkan menikah dengan manusia. Sebuah penelitian antropologi mendalam mencoba memahami fenomena kepercayaan ini, bukan untuk membuktikan keberadaan gaib, melainkan untuk menelusuri akar budaya dan sosial di baliknya.

Short Highlights

  • Suku Moro menghilang dari Maluku Utara pada abad ke-17.
  • Penjelasan historis menyebutkan mereka kalah perang dan mengungsi ke hutan.
  • Kepercayaan lokal menganggap mereka sebagai suku gaib yang hidup berdampingan dengan manusia.
  • Ada cerita tentang interaksi, bahkan pernikahan, antara manusia dan Suku Moro.
  • Penelitian antropologi berfokus pada fenomena kepercayaan ini, bukan pembuktian gaib.
  • Suku Moro digambarkan sebagai suku pendamai yang memilih menghilang daripada berkonflik.
  • Ada juga kepercayaan tentang Suku Moro jahat yang disebut 'Jia'.

Key Details

Sejarah Hilangnya Suku Moro [00:00:00]

  • Suku Moro disebut sebagai satu-satunya suku terkenal di Indonesia yang hilang, namun bukan karena gaib.
  • Penelitian antropologi menyebutkan suku ini populer di abad ke-16 dan menghilang pada abad ke-17.
  • Muncul pertanyaan ke mana suku ini menghilang.

    "Suku Moro itu adalah satu-satunya suku yang terkenal di Indonesia yang hilang, tapi bukan jin."

Fenomena Kepercayaan Lokal [00:01:00]

  • Masyarakat memiliki kepercayaan hidup berdampingan dengan suku yang tidak kasat mata, yaitu Suku Moro.
  • Suku Moro dianggap sebagai suku gaib.
  • Kepercayaan ini ditemukan di Maluku Utara.

    "Masyarakat itu punya kepercayaan hidup berdampingan dengan suku yang tidak kasat mata. Namanya suku Moro gitu."

Penelitian Antropologi Suku Moro [00:02:00]

  • Sebuah penelitian antropologi menyebutkan pada pertengahan abad ke-16, Suku Moro adalah suku dengan populasi terbanyak di pulau tersebut.
  • Pertengahan abad ke-17, Suku Moro mulai menghilang.
  • Pertanyaan muncul mengenai keberadaan mereka saat ini.

    "Tapi dalam satu penelitian antropologi gitu, disebutkan memang di pertengahan abad ke-16, suku Moro itu sebagai suku yang paling banyak populasinya di pulau itu."

Kisah Mahasiswi dan Suku Moro [00:03:00]

  • Seorang mahasiswi berusia 22 tahun mengalami fenomena aneh setelah ayahnya memotong bambu di kebun.
  • Ia tiba-tiba tidak sadarkan diri, melihat seperti kertas hitam di matanya.
  • Saat sadar, ia merasa berada di lingkungan yang berbeda dengan rumah-rumah besar dan orang asing yang tampak seperti bule namun tanpa lekukan bibir.

    "Dia motong bambunya di suku Moro apa di rumahnya? Di kebon rumahnya. Oke. Oke, nah. Si mahasiswi-nya pulang, nggak sadarkan diri."

Pengalaman Mahasiswi yang Aneh [00:04:00]

  • Mahasiswi tersebut merasa mulutnya seperti tersumpal dan tidak bisa berteriak.
  • Ia mendengar arahan suara yang membuatnya berjalan hingga mendengar suara yang dikenalnya memanggilnya.
  • Ia diminta merem, lalu ketika membuka mata, ia ditemukan telah kehilangan kesadaran.

    "Tapi mulutnya tuh kayak kesumpel, jadi dia nggak bisa ngomong."

Ritual Penyembuhan dan Kemampuan Komunikasi [00:05:00]

  • Setelah sadar, dilakukan ritual penyembuhan untuk mahasiswi tersebut.
  • Uniknya, setelah ritual, ia justru bisa berkomunikasi dengan orang-orang Moro.
  • Kemampuan komunikasi ini menjadi titik menarik dalam penelitian.

    "Nah, akhirnya dilakukan ritual penyembuhan, sampai si cewek ini sembuh. Nah, uniknya, dia setelah ritual itu justru bisa komunikasi sama orang-orang moro."

Penjelasan Sejarah Hilangnya Suku Moro [00:06:00]

  • Suku Moro dikenal hilang karena kalah perang pada tahun 1627 melawan Ternate, Tidore, dan Portugis.
  • Mereka tercerai-berai dan masuk ke dalam hutan.
  • Maluku pada saat itu menjadi lokasi kedatangan banyak bangsa Asia, termasuk Portugis yang awalnya berdagang lalu ingin menguasai rempah-rempah.

    "Kalau di sejarahnya kan, suku moro ini hilang karena kalah perang katanya. Tahun 1627 kalah perang."

Kekacauan dan Pengungsian [00:07:00]

  • Situasi menjadi kacau dengan masuknya Spanyol, VOC, dan Belanda selain Portugis.
  • Terjadi peperangan dahsyat dan pertempuran luar biasa hingga pengungsian.
  • Akibatnya, tempat yang dihuni Suku Moro menjadi kosong.

    "Nah, itu benar-benar chaos situasinya, karena bukan Portugis doang, akhirnya ada Spanyol, VOC, Belanda masuk gitu kan?"

Pengisian Wilayah Pasca-Kosong [00:08:00]

  • Setelah Suku Moro kosong, wilayah tersebut kemudian diisi oleh suku-suku pesisir.
  • Kisah Suku Moro menjadi pengingat bahwa mereka pernah ada dan merupakan pemilik asli tanah tersebut.
  • Perspektif antropologi tidak melihatnya sebagai hal mistis atau halus, melainkan membahas mitos dan legenda dalam konteks yang mendalam dengan data pendukung.

    "Berarti bukan gaib dong, kalau secara sejarahnya bukan gaib."

Ciri-ciri Suku Moro Menurut Tradisi [00:09:00]

  • Catatan tradisi Tobelo menyebutkan Suku Moro sulit dikenali wajahnya, hanya bisa dikenali melalui bau badan.
  • Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang aroma khas mereka.

    "Kalau dari catatan tradisi gitu ya, catatan tradisi, tobelo, itu kan, katanya suku Moro dikenalnya, wajahnya tidak bisa dikenalin. Cuma lewat bau badan doang."

Pengalaman di Morotai dan Larangan [00:10:00]

  • Pengalaman langsung di Morotai berbeda dengan cerita sejarah yang keren.
  • Ada pantangan saat berkunjung ke daerah tersebut, seperti tidak boleh kencing sembarangan dan tidak boleh berbicara kotor.
  • Pelanggaran pantangan ini dikaitkan dengan 'kena Moro'.

    "Pantangannya apa? Lalu dia cuma bilang, oh, yang penting kalau John, nanti kalau ke hutan, jangan semua kencing. Oh, normal. Aku bilang, wajar itu."

Penjelasan Lokal tentang Moro [00:11:00]

  • Versi lokal tidak menceritakan Suku Moro secara detail seperti dalam penelitian.
  • Moro digambarkan sebagai entitas yang memiliki sisi baik dan jahat.
  • Ada perdebatan apakah Moro termasuk hantu atau makhluk gaib.

    "Oh, moro itu abang hati-hati aja. Dia bilang, karena ada yang baik, ada yang jahat. Itu hantu ya?"

Asal Usul Nama Morotai [00:12:00]

  • Morotai berasal dari bahasa 'Morotia', yang berarti 'Tempatnya Moro'.
  • Ini menunjukkan hubungan langsung antara nama pulau dan keberadaan Suku Moro.

    "Nah ternyata Morotai itu adalah bahasanya Morotia. Tempatnya Moro. Langsung tuh, sumbernya."

Suku Moro Memilih Menghilang [00:13:00]

  • Menurut Mulis Eso, orang asli Morotai, Suku Moro adalah suku asli yang memilih untuk menghilangkan diri.
  • Alasan mereka menghilang adalah karena tidak ingin berkonflik akibat banyaknya pendatang yang datang untuk berperang atau mencuri barang.
  • Suku Moro digambarkan sebagai suku pendamai.

    "Moro itu adalah bukan hantu, bukan jin. Itu suku yang dulunya ada di Morotai. Suku asli. Mereka memilih untuk menghilangkan diri."

Perubahan Agama dan Konflik [00:14:00]

  • Suku Moro sempat diminta pindah agama Islam saat agama itu datang.
  • Kemudian, saat Portugis datang, mereka dipaksa menjadi Kristen.
  • Karena tidak ingin terlibat konflik, mereka memilih masuk ke hutan dan menghilang.

    "Terus, abis itu, pas Portugis datang, Kristen. Dipaksa. Dipaksa jadi Kristen."

Konsep 'Mukso' dan Kemampuan Menghilang [00:15:00]

  • Ada istilah 'mukso' yang mirip dengan menjadi 'suluman' atau 'kuyang', yaitu orang yang memiliki ilmu untuk menghilang atau tidak terlihat.
  • Kemampuan ini mungkin dipelajari karena belum adanya ilmu modern pada zaman dahulu.

    "Ada memang di beberapa kepercayaan tuh, orang yang bisa ngilmu, dan dia bisa menghilang."

Fenomena Antropologi dan Kepercayaan Lokal [00:16:00]

  • Antropologi melihat fenomena kepercayaan masyarakat terhadap Suku Moro, bukan pada kebenaran mistisnya.
  • Hingga kini, masyarakat meyakini Suku Moro hidup berdampingan dengan mereka.
  • Seorang antropolog di Maluku menyatakan lebih banyak yang percaya Suku Moro hidup berdampingan.

    "Kalau dari antropologi, nih, kita ngeliatnya di sini nih. Mungkin bedanya sama, apa, jurusan-jurusan lain gitu ya."

Komunikasi dengan Suku Moro Pasca-Kesurupan [00:17:00]

  • Mahasiswi yang pernah mengalami kejadian aneh, setelah 8 tahun kemudian kesurupan dan bisa berkomunikasi dengan orang Moro.
  • Dalam kondisi kesurupan, ia bisa berbahasa Portugis dan Jawa, yang sebelumnya tidak ia kuasai.
  • Jurnal penelitian mendeskripsikan fenomena ini.

    "Nah, pas kesurupan itu dia gak sadarkan diri, dan dia bisa bahasa Portugis sama Jawa. Ini di jurnal penelitian ya, gue bukan ngarang-ngarang."

Sifat Suku Moro yang Ramah [00:18:00]

  • Dalam komunikasi saat kesurupan, mahasiswi tersebut menyatakan bahwa orang Moro tidak jahat, melainkan ramah dan ingin berteman.
  • Kemarahan awal terjadi karena bapak mahasiswi tersebut dianggap mengganggu barang milik Suku Moro saat memotong bambu.

    "Justru, dalam komunikasi itu, mereka ramah, dan ingin berteman gitu."

Gerbang Menuju Dunia Moro [00:19:00]

  • Di Morotai, Suku Moro banyak ditemukan di Tanjung, daratan yang menjorok ke laut.
  • Gerbang menuju dunia mereka digambarkan sederhana, seperti batu, pohon, atau tanaman.
  • Hal-hal biasa seperti bambu atau batu bisa jadi merupakan gerbang atau sesuatu yang berharga bagi Suku Moro.

    "Dan rata-rata, gerbangnya itu, bentuknya itu sederhana. Mungkin hanya sebuah batu, mungkin hanya sebuah pohon, atau sebuah tanaman."

Opsi Interaksi dengan Suku Moro [00:20:00]

  • Ada dua opsi interaksi dengan Suku Moro: manusia yang mengganggu mereka, atau Suku Moro yang menyukai manusia.
  • Suku Moro digambarkan sebagai wanita cantik dan pria tampan, mungkin keturunan Portugis.

    "Moro tuh selalu digambarkan dengan, cewek cantik dan cowok ganteng. Oh. Cakep banget."

Konsekuensi Pernikahan dengan Suku Moro [00:21:00]

  • Jika seseorang disukai Suku Moro, mereka akan menampakkan diri dan mengajak ke rumah gaib mereka.
  • Makanan dari Suku Moro tidak boleh dimakan karena akan membuat seseorang tidak bisa kembali.
  • Konsekuensinya, orang tersebut bisa menjadi linglung atau dianggap gila karena rohnya tidak lagi berada di tubuh fisiknya.

    "Kalau kau udah makan makanan yang dari Moro, kau tak akan kembali."

Kisah Pernikahan dengan Suku Moro di Tobelo [00:22:00]

  • Di Tobelo, ada kisah tentang orang yang menikah dengan Suku Moro dan menjadi linglung.
  • Orang tersebut sering menghilang ke hutan dan dicari oleh keluarga serta orang gereja.
  • Kepercayaan masyarakat adalah rohnya sudah tidak di sini, melainkan sudah bersama Suku Moro.

    "Linglung. Agak gila. Karena ruangnya udah gak ada disini. Rohmu udah dimoro."

Suku Moro dan Potensi Wisata Folklore [00:23:00]

  • Keberadaan Suku Moro bisa dijadikan destinasi wisata folklore atau wisata kearifan lokal.
  • Perlu ada peringatan atau penanda gerbang Suku Moro bagi wisatawan.
  • Hal ini mirip dengan wisata legenda Malin Kundang atau Pantai Selatan.

    "Jadi, kalau kita menghormati kepercayaan sana. Itu jadi destinasi wisata yang bagus banget buat tempat itu."

Suku Moro Jahat Bernama 'Jia' [00:24:00]

  • Ada Suku Moro yang jahat bernama 'Jia' yang tidak suka anak-anak.
  • Jia digambarkan suka menarik anak-anak ke laut.
  • Kisah ini beredar di kalangan lokal, termasuk di Pulau Dodola.

    "Yang penting kamu jangan ketemu Jia. Jia tuh apa lagi? Nah siapa tuh Jia Pak? Jia tuh Moro yang jahat."

Interaksi dengan Suku Moro di Pulau Kokoya [00:25:00]

  • Di Pulau Kokoya, seorang pria tua bernama Pak Min dibantu oleh Suku Moro untuk mendorong kapalnya ke darat saat gelombang besar.
  • Ini menunjukkan sisi baik Suku Moro yang membantu manusia.
  • Pak Min berpesan agar tidak bertemu Jia.

    "Dia bantu aku ngangkut kapal. Ya kapal tuh kan pas lagi gelombang besar. Mesti ke darat. Dia sendirian gak punya temen. Nah suku Moro temen-temen yang membantu untuk mendorong kapal ke darat."

Perbandingan dengan Kepercayaan Lain [00:26:00]

  • Suku Moro dibedakan dari Suku Bunian di Kalimantan yang konon suka menukar uang dengan daun atau jahe menjadi emas.
  • Suku Bunian juga memiliki peta lokasi spesifik.

    "Oh itu aku dengarnya suku Bunian. Itu Kalimantan. Itu beda lagi."

Suku Moro dan 'Society Control' [00:27:00]

  • Kepercayaan tentang Suku Moro, seperti larangan memakai baju hijau di Pantai Selatan, bisa jadi merupakan 'society control'.
  • Tujuannya adalah untuk mengingatkan masyarakat akan bahaya, seperti laut yang berbahaya atau agar tidak tersesat.

    "Mitos memang sebenarnya society control sih. Luiz. Ini ini. Society control."

Perdebatan tentang Kepercayaan Gaib [00:28:00]

  • Ada perdebatan apakah Suku Moro itu nyata atau hanya fenomena psikologis seperti kecemasan kolektif atau histeria massal.
  • Penjelasan ilmiah mencoba mencari dasar rasional di balik kepercayaan tersebut.

    "Tapi kalau yang mengatakan hal itu tadi. Adalah untuk supaya menakut-nakuti. Gimana dengan yang tadi dikatakan tentang kuntilanak."

Mitos dan Kepercayaan Lokal [00:29:00]

  • Mitos tentang Suku Moro, Kuntilanak, atau kepercayaan lain memiliki akar dalam masyarakat dan budaya.
  • Penelitian antropologi mencoba memahami fungsi dan makna mitos tersebut dalam konteks sosial dan budaya.

    "Mitos adalah cerita satu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dulu. Penafsiran tentang asal-usul alam semesta manusia serta bangsa."

Kehidupan Setelah Kematian di Pulau Tuma [00:30:00]

  • Penelitian di Pulau Tuma, Papua Nugini, mengungkap kepercayaan tentang roh bernama Baloma yang hidup setelah kematian.
  • Baloma berinteraksi dengan dunia manusia melalui mimpi dan festival panen.
  • Ada juga roh jahil bernama Kosi.

    "Jadi dia naik kano gitu. Arwahnya nih. Yes. Arwah naik kano."

Metode Penelitian Antropologi [00:31:00]

  • Penelitian antropologi bersifat kualitatif, menggunakan wawancara, observasi, dan terjun langsung ke lapangan.
  • Tujuannya adalah memahami perspektif 'emic' (dari dalam) masyarakat, bukan hanya dari luar.
  • Kepercayaan terhadap Suku Moro dianggap sebagai fenomena masyarakat yang nyata, bukan pembuktian keberadaan gaib.

    "Jadi kalau kita antropologi. Fokus antropologi ini bukan uji fisik-fisik laboratorium dan sebagainya."

Skeptisisme dan Pengalaman Lapangan [00:32:00]

  • Ada perbedaan antara skeptisisme teoritis dan skeptisisme yang didasari pengalaman lapangan.
  • Pengalaman bertahun-tahun menjelajahi pelosok Indonesia membuat seseorang lebih sulit menyangkal fenomena yang ada.

    "Aku dan Rian itu sangat skeptis. Jadi kayak. Aku terus mempertahankan segala hal. Benarkah? Apa faktanya? Apa buktinya?"

Kepercayaan pada Hal Gaib [00:33:00]

  • Kepercayaan pada hal gaib, seperti setan atau jin, bisa berasal dari agama, pengalaman pribadi, atau rasa ingin tahu.
  • Namun, ada juga yang menggunakan cerita gaib untuk mendapatkan perhatian atau viralitas.

    "Ya kalau gue kan muslim. Ya. Meyakini ada itu. Jangan bobo agama."

Membedakan Kepercayaan dan Fenomena [00:34:00]

  • Penting untuk membedakan antara kepercayaan pribadi dan fenomena yang dialami atau dilaporkan oleh masyarakat.
  • Antropologi fokus pada pemahaman fenomena tersebut dalam konteks sosial dan budaya.

    "Tapi kalau yang denger. Gak aku doang. Oke. Terus tiba ada poltergeist yang."

Wabah Menari di Strasbourg [00:35:00]

  • Wabah menari di Strasbourg pada tahun 1518, di mana ratusan orang menari tanpa henti hingga mati, bisa jadi contoh kecemasan kolektif atau keracunan jamur ergot.
  • Fenomena ini menunjukkan bagaimana faktor psikologis atau lingkungan dapat memengaruhi perilaku manusia.

    "Dancing plaque. Tahun sejumnya. 518-an. Itu ada di. Tapi di luar lagi ya. Stadbush lah ceritanya."

Perdebatan tentang Kepercayaan Setan [00:36:00]

  • Perdebatan muncul mengenai apakah percaya pada setan atau jin menunjukkan kelemahan atau kurangnya kecerdasan.
  • Namun, penting untuk membedakan antara keyakinan agama, pengalaman pribadi, dan sensasionalisme.

    "Kenapa anda mengkonotasikan. Kalau channel smart people. Itu gak boleh pecah setan."

Memahami Kepercayaan Lokal [00:37:00]

  • Memahami kepercayaan lokal, seperti tentang Suku Moro atau Kuntilanak, memerlukan pendekatan yang mendalam dan tidak menghakimi.
  • Antropologi menawarkan kerangka kerja untuk menganalisis fenomena ini sebagai bagian dari konteks sosial, budaya, dan sejarah.

    "Jadi, kalau kita menghormati kepercayaan sana. Itu jadi destinasi wisata yang bagus banget buat tempat itu."

Other People Also See