MAKAM SUDAH DIGALI SEBELUM ADA KABAR M3N1NGG4L ⁉️
CURHAT BANG Denny Sumargo
6,304 views • 16 hours ago Save 54 min 15 min read
Video Summary
Keluarga Winda Lorenza meragukan penyebab kematiannya, menyoroti kejanggalan pada jenazah dan perbedaan keterangan saksi. Winda ditemukan tewas di kamar mandi, diduga bunuh diri dengan tembakan di kepala. Namun, keluarga menemukan luka lebam di mata, jahitan di leher dan perut, serta memar di kaki yang tidak sesuai dengan keterangan resmi.
Perbedaan keterangan muncul dari pihak keluarga suami dan keluarga Winda sendiri mengenai kronologi dan waktu kejadian. Pihak keluarga Winda juga merasa ada upaya menghalangi mereka untuk melihat jenazah dan menuntut otopsi ulang. Mereka menduga ada kekerasan yang terjadi dan meminta penyelidikan lebih lanjut agar kebenaran terungkap.
Short Highlights
- Keluarga Winda Lorenza meragukan kematiannya.
- Ditemukan kejanggalan pada jenazah Winda.
- Terdapat perbedaan keterangan saksi.
- Keluarga menuntut penyelidikan lebih lanjut.
Key Details
Kejanggalan Jenazah [0:00]
- Terdapat luka bekas jahitan yang membiru di bagian tubuh.
- Tulang di bagian kepala tampak masuk ke dalam.
- Terdapat memar di mata, jahitan di leher dan perut, serta memar di kaki.
"Ini kamu merasa ada kejanggalan, seperti orang kekurangan oksigen. Di sini kan yang bekas jahitam itu ada yang biru. Kemudian ini bang, di bagian sini ya, tulangnya masuk ke dalam. Lembe. Lembe, udah beda. Jebol gitu, tulangnya amblas ke dalam."
Kronologi Awal [3:49]
- Keluarga menerima telepon mengenai kematian Winda pada Minggu, 2 Agustus.
- Awalnya diberitahu Winda bunuh diri dengan menembak kepala.
- Ibu Winda syok dan bingung mendengar kabar tersebut.
"Kakakmu udah gak ada lagi. Kakakmu udah gak ada lagi. Gimana? Ya dia udah ambil pisau. Dia tebakkan kepalanya."
Perbedaan Keterangan Keluarga [10:00]
- Terdapat perbedaan keterangan antara ayah dan ibu Winda mengenai siapa yang sudah berada di Jakarta.
- Ayah Winda menyebutkan ia baru tiba di Jakarta, sementara ibu dan adiknya sudah lebih dulu.
- Terdapat kebingungan mengenai alur cerita yang disampaikan.
"Jadi ini bang, alur ceritanya. Menurut si Iha. Papa. Mamanya itu. Keterangannya sudah berbeda. Tadi kan disampaikan sama. Mama ini. Mamanya. Si apa. Winda. Iman. Iman tadi bilang. Sudah disana kian. Sudah kian. Nah ini adalah keterangan. Baru sampai. Jadi ada dua persesuaian."
Permintaan untuk Tidak Otopsi [17:10]
- Pihak keluarga suami Winda sempat meminta agar jenazah tidak diotopsi.
- Alasannya adalah kasihan jika jenazah dibelah-belah.
- Namun, kemudian ada telepon dari adik Winda yang menyatakan otopsi wajib dilakukan.
"Terus. Di toko juga mereka bilang. Jangan di otopsi. Kasian kita. Di toko juga mereka bilang. Jangan di otopsi. Kasian. Masa dia udah terdiri. Nanti dia dibela-belah. Kasian."
Larangan Melihat Jenazah [21:40]
- Keluarga Winda dilarang melihat jenazah dengan alasan masih dalam penanganan polisi.
- Ada kebingungan karena sebelumnya diminta untuk tidak melapor polisi, namun kini jenazah berada di rumah sakit dan ditangani polisi.
- Ibu Winda memohon untuk bisa melihat anaknya namun tetap tidak diizinkan.
"Kenapa ada di rumah sakit? Kenapa belum di rumah? Boleh saya lihat. Tidak boleh, tidak bisa lihat. Karena itu di tangan polisi."
Perdebatan di Rumah Duka [25:00]
- Saudara Winda yang datang dimarahi dan dilarang masuk ke rumah duka.
- Mereka diberitahu bahwa hanya orang tua kandung yang berhak berada di sana.
- Terjadi ketegangan antara kakak Winda dan bapak suami Winda.
"Tidak ada hak kalian di sini. Ngapain kalian datang di sini, sama keluarga saya. Yang berhak di sini, hanya orang tuanya kandung. Ngapain kalian datang ke rumah saya?"
Pemeriksaan Saksi [29:10]
- Ibu Winda merasa tertekan karena harus memberikan keterangan sebagai saksi untuk mengambil jenazah.
- Ia mengaku sakit namun tetap diminta untuk diperiksa.
- Polisi datang beberapa kali ke kamar untuk melakukan pemeriksaan.
"Kamu harus beri keterangan. Kamu satu-satunya beri keterangan untuk mengambil mayat. Saya bilang, bagaimana dengan bapaknya? Dia tidak berhak kena, sudah ditungguin."
Penolakan Otopsi Ulang dan Alasan [35:50]
- Keluarga Winda mengetahui bahwa jenazah bisa diotopsi, bertentangan dengan informasi sebelumnya.
- Pihak keluarga suami bersikeras jenazah sudah busuk dan tidak bisa diotopsi.
- Namun, setelah dicek ke petugas, ternyata jenazah bisa diotopsi dan tidak berbau.
"Yang ngomong siapa ini. Ini ada keluarga yang sudah sampai ke rumah sakit. Kemudian mereka tanya sama petugas di situ. Ternyata bisa. Tidak ada masalah. Tidak ada masalah."
Kejanggalan di Lokasi Kejadian [43:20]
- Ica, adik Winda, diizinkan naik ke lantai dua di tempat kejadian perkara (TKP).
- Ia melihat bercak darah di kamar menuju kamar mandi, padahal informasi menyebutkan Winda meninggal di kamar mandi.
- Ica juga dilarang berbicara dengan tetangga.
"Sedangkan informasinya meninggalnya di kamar mandi. Di kamar mandi. Menembak dirinya di kamar mandi. Tapi saya melihat di kamar itu ada darah."
Perbedaan Keterangan Waktu Penggalian Kubur [52:30]
- Terdapat perbedaan keterangan mengenai waktu penggalian kubur.
- Pengelola kuburan dan penggali kubur memberikan keterangan yang berbeda dari informasi yang diterima keluarga.
- Penggali kubur menyatakan menggali sejak subuh, sementara pengelola menyebut Minggu pagi.
"Kami kalau menggali itu selalu di subuh Sekitar jam 5 sampai di bawah jam sebelum matahari itu panas di atas"
Dugaan KDRT dan Penutupan Masalah [1:03:00]
- Adik Winda menyebutkan adanya riwayat Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dari suami Winda.
- Winda diduga dipaksa menjual tas dan barang-barangnya.
- Winda diduga menutup-nutupi masalah rumah tangganya.
"Pernah dia disorong Kadang-kadang dikasih uang Dimaki Dihina Dari mana mama tahu itu? Cerita dia ke saya Makanya saya izinkan dia Pisah rumah"
Keyakinan Keluarga dan Permohonan [1:15:00]
- Ibu Winda yakin anaknya tidak bunuh diri.
- Ia memohon agar Tuhan menunjukkan kebenaran kematian anaknya.
- Keluarga meminta agar kasus ini diusut secara independen dan transparan.
"Saya ikhlas, esalkan Tuhan. Tunjukkan kebenaran kematian anak saya. Apakah ini memang tidak? Kalau ditunjukkan orangnya, saya ikhlas."
Isu Saksi KPK dan Berita Hoax [1:25:00]
- Muncul isu bahwa Winda Lorenza adalah saksi KPK dan ditemukan tewas usai diperiksa DPR.
- Keluarga dan tim kuasa hukum tidak mengetahui kebenaran isu tersebut.
- Mereka meminta KPK untuk memberikan klarifikasi agar tidak menimbulkan spekulasi.
"Ada di Instagram Lihat postingan itu Tapi kita nggak tahu Keluarganya nggak tahu Kapan diperiksa Apa urusannya tiba-tiba jadi saksi KPK itu?"
Laporan Polisi dan Permintaan Eksumasi [1:29:00]
- Keluarga melaporkan kasus ini ke Polrestabes Medan dan Polda Sumut.
- Terdapat perdebatan mengenai pasal yang diterapkan, keluarga meminta dugaan pembunuhan berencana.
- Keluarga meminta agar perkara ini ditarik ke Bareskrim untuk penyelidikan lebih lanjut.
"Keluarga ini kan sudah nyata melihat ada upaya-upaya Tekanan-tekanan ke mereka Biar lebih terang Perkara ini dilimpahkan ke Polda Perkara yang Polda kita minta Baris Krim yang turun Bentuk tim khusus"
Keterangan Anak Korban [1:01:00]
- Terdapat keterangan dari anak Winda yang mengaku melihat ibunya di kamar mandi sebelum kejadian.
- Namun, keluarga tidak membenarkan atau menyalahkan keterangan anak tersebut.
- Keterangan anak tersebut menimbulkan spekulasi lebih lanjut.
"Mami langsung ke kamar mandi Kita udah lihat dan kita udah dengar Bang, itu kan anak-anak Ya kan Saya tidak membenarkan Saya tidak menyalahkan keterangan itu"
Kejanggalan di Tangan dan Kaki [0:40:00]
- Tangan dan kuku Winda tampak membiru, yang menurut analisis bidan menandakan kekurangan oksigen.
- Kaki Winda juga tampak membiru dan lebam, seperti ada benturan.
- Terdapat luka jahitan di bagian atas pusar yang juga membiru.
"Terus kemudian ini bang. Di bagian sini ya kayak tulangnya ini masuk ke dalam. Oh aku lihat ada di video. Lembek. Lembek. Udah beda. Jebolnya tulangnya amblas ke dalam."
Luka di Kepala dan Leher [0:41:00]
- Terdapat luka bekas tembakan di kepala yang dijahit.
- Terdapat jahitan di leher yang menurut keterangan adalah bekas suntikan obat.
- Keluarga merasa aneh karena suntikan obat sampai perlu dijahit sebesar itu.
"Terus yang ini? Nah yang biru itu kita nggak ada tanya. Petugasnya bilang. Kak ini biru ya. Karena mulai membusuk. Oh yang jahitan di perut. Iya. Hanya di bagian atas pusarnya aja. Pak."
Keterangan Forensik dan Keraguan Keluarga [0:47:00]
- Keluarga merasa keterangan forensik mengenai luka tembak tidak detail.
- Luka di punggung kaki dan lutut yang membiru belum terjelaskan.
- Keterangan mengenai mata lebam dan penyebabnya masih simpang siur.
"Kami kan masyarakat awam ini. Tidak paham kesehatan. Lebih detail. Agar. Berita di media itu. Tidak simpang siur. Tidak simpang siur."
Kondisi Rumah Tangga dan Pesan Terakhir [1:05:00]
- Winda diduga mengalami kekerasan dalam rumah tangga namun tidak terekspos.
- Winda sempat berkomunikasi dengan ibunya, mengeluh tentang suaminya dan masalah keuangan.
- Ibu Winda yakin anaknya tidak akan bunuh diri.
"Mama tidak pikirkan. Aku sudah Sudah Sudah Kayaknya Kemarin itu Baikan tapi Kayaknya ini ma Udah nggak iya ini Saya bilang sabar ya nak"
Upaya Penyelidikan dan Harapan Keluarga [1:33:00]
- Keluarga meminta pemeriksaan ulang dan eksumasi terhadap jenazah.
- Mereka berharap kasus ini diusut secara transparan oleh pihak berwenang.
- Keluarga ingin kebenaran terungkap demi almarhumah dan semua pihak.
"Dan harus dilakukan itu ya bang ya Oleh pihak Kepolisian Ya Dan harapan keluarga juga Ada sepakat Kemarin kita berebut bang Ya ini harus dilakukan Eksumasi lah"
Keterangan Anak dan Spekulasi [1:01:00]
- Terdapat keterangan dari anak Winda yang mengaku melihat ibunya di kamar mandi sebelum kejadian.
- Namun, keluarga tidak membenarkan atau menyalahkan keterangan anak tersebut.
- Keterangan anak tersebut menimbulkan spekulasi lebih lanjut.
"Mami langsung ke kamar mandi Kita udah lihat dan kita udah dengar Bang, itu kan anak-anak Ya kan Saya tidak membenarkan Saya tidak menyalahkan keterangan itu"
Perbedaan Keterangan Waktu Kematian [0:49:00]
- Terdapat perbedaan informasi mengenai waktu kematian Winda.
- Keterangan polisi menyebutkan pukul 14.00 lewat, namun keluarga belum mengetahui kepastiannya.
- Hal ini menimbulkan simpang siur informasi.
"Keterangan dokter mengenai waktu kematian Udah ada belum? Itu belum ada kita mendengarkan Kapan sih? Jam berapa sih meninggalnya? Tepatnya meninggalnya Belum ada mendengarkan itu"
Dugaan Kekerasan dan Upaya Penutupan [1:03:00]
- Adik Winda menyebutkan adanya riwayat Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dari suami Winda.
- Winda diduga dipaksa menjual tas dan barang-barangnya.
- Winda diduga menutup-nutupi masalah rumah tangganya.
"Pernah dia disorong Kadang-kadang dikasih uang Dimaki Dihina Dari mana mama tahu itu? Cerita dia ke saya Makanya saya izinkan dia Pisah rumah"
Keterangan Ibu Mertua dan KDRT [1:06:00]
- Ibu Winda menceritakan bahwa Winda pernah mengalami KDRT dari suaminya.
- Winda pernah dipaksa menjual barang dan dimaki.
- Ibu Winda mengizinkan Winda pisah rumah karena masalah tersebut.
"Pernah dia disorong Kadang-kadang dikasih uang Dimaki Dihina Dari mana mama tahu itu? Cerita dia ke saya Makanya saya izinkan dia Pisah rumah"
Foto dan Video Kejadian [0:42:00]
- Terdapat foto-foto jenazah yang beredar di media sosial, padahal dilarang memotret di rumah sakit.
- Keluarga yang memotret diminta menghapus oleh petugas kepolisian.
- Pihak keluarga suami melarang foto dan video diambil di rumah mereka.
"Kamu gak boleh foto. Gak boleh foto. Kamu gak tanya kenapa gak boleh foto. Katanya larangannya. Raturannya memang di dalam itu tidak boleh di foto."
Laporan Polisi dan Pasal yang Diterapkan [1:29:00]
- Keluarga melaporkan kasus ini ke Polrestabes Medan dan Polda Sumut.
- Terdapat perdebatan mengenai pasal yang diterapkan, keluarga meminta dugaan pembunuhan berencana.
- Keluarga meminta agar perkara ini ditarik ke Bareskrim untuk penyelidikan lebih lanjut.
"Keluarga ini kan sudah nyata melihat ada upaya-upaya Tekanan-tekanan ke mereka Biar lebih terang Perkara ini dilimpahkan ke Polda Perkara yang Polda kita minta Baris Krim yang turun Bentuk tim khusus"
Penolakan Laporan dan Kejanggalan Makam [0:51:00]
- Keluarga dilarang melihat jenazah dengan alasan masih dalam penanganan polisi.
- Ada kebingungan karena sebelumnya diminta untuk tidak melapor polisi, namun kini jenazah berada di rumah sakit dan ditangani polisi.
- Ibu Winda memohon untuk bisa melihat anaknya namun tetap tidak diizinkan.
"Kenapa ada di rumah sakit? Kenapa belum di rumah? Boleh saya lihat. Tidak boleh, tidak bisa lihat. Karena itu di tangan polisi."
Keterangan Saksi dan Penutupan Kasus [1:31:00]
- Keluarga merasa ada upaya tekanan agar kasus ini ditutup.
- Mereka meminta agar perkara ini lebih independen dan transparan.
- Keluarga berharap keadilan terungkap.
"Biar lebih terang Perkara ini dilimpahkan ke Polda Perkara yang Polda kita minta Baris Krim yang turun Bentuk tim khusus Dikarenakan Menurut keterangan mereka dan media yang sajikan Papanya Brigadier IH ini kan orangnya lumayan power"
Keyakinan Ibu Korban [1:15:00]
- Ibu Winda yakin anaknya tidak bunuh diri.
- Ia memohon agar Tuhan menunjukkan kebenaran kematian anaknya.
- Keluarga meminta agar kasus ini diusut secara independen dan transparan.
"Saya ikhlas, esalkan Tuhan. Tunjukkan kebenaran kematian anak saya. Apakah ini memang tidak? Kalau ditunjukkan orangnya, saya ikhlas."
Kejanggalan di Tangan dan Kaki [0:40:00]
- Tangan dan kuku Winda tampak membiru, yang menurut analisis bidan menandakan kekurangan oksigen.
- Kaki Winda juga tampak membiru dan lebam, seperti ada benturan.
- Terdapat luka jahitan di bagian atas pusar yang juga membiru.
"Terus kemudian ini bang. Di bagian sini ya kayak tulangnya ini masuk ke dalam. Oh aku lihat ada di video. Lembek. Lembek. Udah beda. Jebolnya tulangnya amblas ke dalam."
Luka di Kepala dan Leher [0:41:00]
- Terdapat luka bekas tembakan di kepala yang dijahit.
- Terdapat jahitan di leher yang menurut keterangan adalah bekas suntikan obat.
- Keluarga merasa aneh karena suntikan obat sampai perlu dijahit sebesar itu.
"Terus yang ini? Nah yang biru itu kita nggak ada tanya. Petugasnya bilang. Kak ini biru ya. Karena mulai membusuk. Oh yang jahitan di perut. Iya. Hanya di bagian atas pusarnya aja. Pak."
Keterangan Forensik dan Keraguan Keluarga [0:47:00]
- Keluarga merasa keterangan forensik mengenai luka tembak tidak detail.
- Luka di punggung kaki dan lutut yang membiru belum terjelaskan.
- Keterangan mengenai mata lebam dan penyebabnya masih simpang siur.
"Kami kan masyarakat awam ini. Tidak paham kesehatan. Lebih detail. Agar. Berita di media itu. Tidak simpang siur. Tidak simpang siur."
Kondisi Rumah Tangga dan Pesan Terakhir [1:05:00]
- Winda diduga mengalami kekerasan dalam rumah tangga namun tidak terekspos.
- Winda sempat berkomunikasi dengan ibunya, mengeluh tentang suaminya dan masalah keuangan.
- Ibu Winda yakin anaknya tidak akan bunuh diri.
"Mama tidak pikirkan. Aku sudah Sudah Sudah Kayaknya Kemarin itu Baikan tapi Kayaknya ini ma Udah nggak iya ini Saya bilang sabar ya nak"
Upaya Penyelidikan dan Harapan Keluarga [1:33:00]
- Keluarga meminta pemeriksaan ulang dan eksumasi terhadap jenazah.
- Mereka berharap kasus ini diusut secara transparan oleh pihak berwenang.
- Keluarga ingin kebenaran terungkap demi almarhumah dan semua pihak.
"Dan harus dilakukan itu ya bang ya Oleh pihak Kepolisian Ya Dan harapan keluarga juga Ada sepakat Kemarin kita berebut bang Ya ini harus dilakukan Eksumasi lah"
Keterangan Anak dan Spekulasi [1:01:00]
- Terdapat keterangan dari anak Winda yang mengaku melihat ibunya di kamar mandi sebelum kejadian.
- Namun, keluarga tidak membenarkan atau menyalahkan keterangan anak tersebut.
- Keterangan anak tersebut menimbulkan spekulasi lebih lanjut.
"Mami langsung ke kamar mandi Kita udah lihat dan kita udah dengar Bang, itu kan anak-anak Ya kan Saya tidak membenarkan Saya tidak menyalahkan keterangan itu"
Perbedaan Keterangan Waktu Kematian [0:49:00]
- Terdapat perbedaan informasi mengenai waktu kematian Winda.
- Keterangan polisi menyebutkan pukul 14.00 lewat, namun keluarga belum mengetahui kepastiannya.
- Hal ini menimbulkan simpang siur informasi.
"Keterangan dokter mengenai waktu kematian Udah ada belum? Itu belum ada kita mendengarkan Kapan sih? Jam berapa sih meninggalnya? Tepatnya meninggalnya Belum ada mendengarkan itu"
Dugaan Kekerasan dan Upaya Penutupan [1:03:00]
- Adik Winda menyebutkan adanya riwayat Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dari suami Winda.
- Winda diduga dipaksa menjual tas dan barang-barangnya.
- Winda diduga menutup-nutupi masalah rumah tangganya.
"Pernah dia disorong Kadang-kadang dikasih uang Dimaki Dihina Dari mana mama tahu itu? Cerita dia ke saya Makanya saya izinkan dia Pisah rumah"
Keterangan Ibu Mertua dan KDRT [1:06:00]
- Ibu Winda menceritakan bahwa Winda pernah mengalami KDRT dari suaminya.
- Winda pernah dipaksa menjual barang dan dimaki.
- Ibu Winda mengizinkan Winda pisah rumah karena masalah tersebut.
"Pernah dia disorong Kadang-kadang dikasih uang Dimaki Dihina Dari mana mama tahu itu? Cerita dia ke saya Makanya saya izinkan dia Pisah rumah"
Foto dan Video Kejadian [0:42:00]
- Terdapat foto-foto jenazah yang beredar di media sosial, padahal dilarang memotret di rumah sakit.
- Keluarga yang memotret diminta menghapus oleh petugas kepolisian.
- Pihak keluarga suami melarang foto dan video diambil di rumah mereka.
"Kamu gak boleh foto. Gak boleh foto. Kamu gak tanya kenapa gak boleh foto. Katanya larangannya. Raturannya memang di dalam itu tidak boleh di foto."
Laporan Polisi dan Pasal yang Diterapkan [1:29:00]
- Keluarga melaporkan kasus ini ke Polrestabes Medan dan Polda Sumut.
- Terdapat perdebatan mengenai pasal yang diterapkan, keluarga meminta dugaan pembunuhan berencana.
- Keluarga meminta agar perkara ini ditarik ke Bareskrim untuk penyelidikan lebih lanjut.
"Keluarga ini kan sudah nyata melihat ada upaya-upaya Tekanan-tekanan ke mereka Biar lebih terang Perkara ini dilimpahkan ke Polda Perkara yang Polda kita minta Baris Krim yang turun Bentuk tim khusus"
Penolakan Laporan dan Kejanggalan Makam [0:51:00]
- Keluarga dilarang melihat jenazah dengan alasan masih dalam penanganan polisi.
- Ada kebingungan karena sebelumnya diminta untuk tidak melapor polisi, namun kini jenazah berada di rumah sakit dan ditangani polisi.
- Ibu Winda memohon untuk bisa melihat anaknya namun tetap tidak diizinkan.
"Kenapa ada di rumah sakit? Kenapa belum di rumah? Boleh saya lihat. Tidak boleh, tidak bisa lihat. Karena itu di tangan polisi."
Keterangan Saksi dan Penutupan Kasus [1:31:00]
- Keluarga merasa ada upaya tekanan agar kasus ini ditutup.
- Mereka meminta agar perkara ini lebih independen dan transparan.
- Keluarga berharap keadilan terungkap.
"Biar lebih terang Perkara ini dilimpahkan ke Polda Perkara yang Polda kita minta Baris Krim yang turun Bentuk tim khusus Dikarenakan Menurut keterangan mereka dan media yang sajikan Papanya Brigadier IH ini kan orangnya lumayan power"
Keyakinan Ibu Korban [1:15:00]
- Ibu Winda yakin anaknya tidak bunuh diri.
- Ia memohon agar Tuhan menunjukkan kebenaran kematian anaknya.
- Keluarga meminta agar kasus ini diusut secara independen dan transparan.
"Saya ikhlas, esalkan Tuhan. Tunjukkan kebenaran kematian anak saya. Apakah ini memang tidak? Kalau ditunjukkan orangnya, saya ikhlas."