Perusahaan China PALING BERBAHAYA DI DUNIA
Raymond Chin
106,956 views • 7 months ago Save 4 min 7 min read
Video Summary
Perusahaan teknologi Cina, Huawei, menjadi ancaman serius bagi Amerika Serikat, memaksa negara tersebut untuk mengubah undang-undang dan mengajak sekutu Eropa untuk memblokir akses teknologi global Huawei. Ancaman ini bukan berasal dari produk konsumen seperti HP, melainkan dari dominasi Huawei dalam infrastruktur telekomunikasi global, memegang 30% pangsa pasar alat telekomunikasi dan paten 5G terbanyak. Meskipun telah dihantam sanksi keras sejak 2019, termasuk pemutusan akses Google dan larangan pembelian chip, Huawei berhasil bangkit kembali dengan omzet hampir Rp800 triliun pada tahun 2024 dan kembali menjadi merek HP nomor satu di Cina. Keberhasilan ini, yang dikenal sebagai "The Mate 60 Moment", ditandai dengan peluncuran HP Mate 60 Pro yang menggunakan chip Kirin 9000s buatan Cina SMIC, menunjukkan kemandirian teknologi Huawei dalam menghadapi sanksi AS.
Fakta menariknya adalah meskipun AS berusaha menahan kemajuan teknologi Cina melalui sanksi, upaya tersebut justru mendorong Huawei untuk melakukan integrasi vertikal yang lebih kuat, menciptakan ekosistem end-to-end yang setara dengan Apple, mulai dari chip, sistem operasi (Harmony OS), hingga merambah ke mobil listrik dan ekosistem AI.
Short Highlights
- Huawei menjadi ancaman besar bagi AS, menyebabkan Pentagon, FBI, dan CIA khawatir, bahkan mendorong perubahan undang-undang dan blokade teknologi global.
- AS tidak takut pada merek HP Cina lain seperti Xiaomi, Oppo, atau Vivo, tetapi Huawei menimbulkan kepanikan karena dominasinya dalam infrastruktur telekomunikasi global, bukan hanya produk konsumen.
- Meskipun telah menghadapi berbagai sanksi sejak 2019, termasuk pemutusan akses Google dan larangan pembelian chip, Huawei berhasil bangkit dengan omzet hampir Rp800 triliun pada tahun 2024 dan kembali menjadi HP nomor satu di Cina.
- Huawei menguasai 30% pangsa pasar alat telekomunikasi global dan memegang paten 5G terbanyak di dunia, yang berarti negara lain tetap harus membayar royalti kepada Huawei bahkan jika membangun jaringan 5G dengan perusahaan lain.
- "The Mate 60 Moment" pada akhir 2023 menunjukkan bahwa Huawei mampu memproduksi chip canggih (Kirin 9000s) tanpa bantuan AS, membuktikan sanksi justru mendorong integrasi vertikal dan menciptakan ekosistem end-to-end seperti Apple.
Related Video Summary
Key Details
Ancaman Huawei yang Menggemparkan AS [00:00]
- Perusahaan teknologi Cina, Huawei, dianggap sangat mengancam sehingga Pentagon, FBI, dan CIA merasa khawatir.
- Kekuatan Huawei memaksa negara sekuat Amerika Serikat untuk mengubah undang-undang dan mengajak mitra di Eropa untuk memblokir akses teknologi global mereka.
- Tujuan utama dari tindakan AS ini adalah untuk "membunuh" perusahaan ini, yang ternyata bukanlah TikTok atau Alibaba, melainkan Huawei.
"Satu perusahaan Cina ini seram banget sampai Pentagon, FBI, CIA itu semua ketar-ketir perusahaan ini saking kuatnya negara sekuat Amerik harus ngubah undang-undangnya, ngajak semua partner-partner di Eropa buat ngeblokir akses teknologi global mereka."
Mengapa Huawei Begitu Ditakuti? [00:39]
- Amerika Serikat tidak merasa terancam oleh perusahaan seperti Xiaomi, Oppo, atau Vivo, tetapi kepanikan muncul ketika nama Huawei disebut.
- Ketakutan ini melampaui persaingan pasar HP murah; sanksi global diterapkan karena ada sesuatu yang lebih fundamental.
- Huawei telah "ditembak mati" berkali-kali dengan diputus aksesnya dari Google, dilarang membeli chip, dan CFO-nya ditahan, namun bangkit menjadi "monster" yang lebih menakutkan pada tahun 2024-2025.
- Di tahun 2024, omset Huawei hampir mencapai Rp800 triliun, dan mereka kembali menjadi merek HP nomor satu di Cina, mengalahkan Vivo, Xiaomi, dan Apple.
- Huawei bahkan berhasil mengalahkan dominasi Apple di pasar smartwatch.
"Yang bikin seram tuh kayak gini. Huawei udah ditembak mati berkali-kali. Pertama diputus aksesnya sama Google, dilarang beli chip, CFO-nya ditahan. Tapi di tahun 2024-2025 bukannya masih hidup, tapi bangkit jadi monster yang jauh lebih ngeri daripada sebelumnya."
Hukuman Mati Teknologi: Entity List [01:57]
- Pada tahun 2019, Donald Trump mengeluarkan executive order yang memasukkan Huawei ke dalam "entity list".
- Entity list ini ibarat "death note" atau hukuman mati bagi perusahaan di industri teknologi modern, karena tidak ada perusahaan elektronik yang bisa hidup tanpa teknologi Amerika (OS Android dari Google, chipset dari Intel/Qualcomm/Nvidia, mesin cetak chip dari AS).
- Perusahaan Cina lain, ZTE, mengalami kolaps dan bangkrut dalam hitungan minggu setelah terkena sanksi serupa pada tahun 2018, dan harus membayar denda triliunan rupiah untuk bisa beroperasi kembali.
- Saat Huawei terkena sanksi, penjualan HP-nya di luar Cina, termasuk Indonesia, anjlok drastis karena tidak adanya Google Play Store.
- Bisnis HP Huawei mengalami kerugian sekitar 30 miliar dolar AS per tahun.
"Ada satu kertas list-list perusahaan yang udah pasti diband. untuk semua industri teknologi entity list ini macam death note itu hukuman mati death sentence."
Monster di Balik Gadget: Infrastruktur Telekomunikasi [03:30]
- Alasan utama ketakutan AS adalah karena Huawei memegang kunci dari internet, bukan sekadar saingan di pasar HP.
- Huawei bersaing di level fundamental dengan perusahaan seperti Cisco, Ericsson, dan Nokia, menguasai infrastruktur telekomunikasi terbesar di dunia.
- Huawei menguasai 30% pangsa pasar alat telekomunikasi global, termasuk tower 4G dan 5G di berbagai negara. Sekitar 60-70% koneksi pengguna bergantung pada infrastruktur Huawei.
- Huawei memegang jumlah paten 5G terbanyak di dunia (lebih dari 20% paten standar 5G), yang berarti negara lain, termasuk AS, harus membayar royalti kepada Huawei bahkan jika menggunakan teknologi dari Nokia atau Ericsson.
- Ketakutan terbesar AS adalah potensi spionase atau mata-mata oleh Tiongkok melalui infrastruktur Huawei, yang memungkinkan Beijing menyadap data dunia atau mematikan internet negara lain.
"Di level fundamental Huawei itu sayanginnya sama Cisco, Ericson sama Nokia. Mereka nguasain infrastruktur telekomunikasi terbesar di dunia."
The Wolf Culture: Kekuatan Mentalitas Huawei [05:22]
- Kekuatan terbesar Huawei bukan pada alat, melainkan pada mentalitas dan budaya kerja "wolf culture" yang ditanamkan oleh pendirinya, Ren Zhengfei, seorang mantan insinyur militer Cina.
- Wolf culture ini bersifat agresif, berani mati, dan memiliki loyalitas tinggi.
- Untuk operasional besar, Huawei menggunakan software sendiri atau sistem third-party untuk menyatukan data dan proses bisnis agar dapat dikontrol secara terpusat. (Terkait dengan iklan ODU ERP Software)
"Kekuatan terbesar Huawei itu bukan di alat, tapi di mentalitasnya."
The Mate 60 Moment: Sanksi AS Tak Mempan [06:52]
- Pada akhir tahun 2023, Menteri Perdagangan AS Gina Raimondo berkunjung ke Cina, bersamaan dengan perilisan HP Huawei Mate 60 Pro tanpa pemberitahuan sebelumnya.
- HP ini mengejutkan dunia teknologi karena menggunakan chip Kirin 9000s, chip 7nm buatan SMIC Cina yang didesain oleh Huawei dan mendukung 5G.
- Ini merupakan pukulan telak bagi AS, karena tujuan sanksi adalah menahan teknologi Cina agar tidak maju, memaksa mereka bergantung pada chip dari AS.
- Sanksi AS justru memaksa Huawei untuk melakukan integrasi vertikal: membuat chip sendiri (sebelumnya dari Qualcomm), mengembangkan Harmony OS yang terlepas dari Android, dan mendesain software chip sendiri.
- Huawei menjadi satu-satunya perusahaan di dunia yang memiliki ekosistem end-to-end (hardware, software, konektivitas, infrastruktur tower, cloud, OS), setara dengan Apple.
"Ini tuh tampan yang keras banget buat US. Karena tujuannya US bikin sanksi itu nahan teknologi Cina biar stuck di zaman batu."
Merambah ke Arena Baru: Mobil Listrik dan AI [09:23]
- Huawei kini merambah ke industri mobil listrik dengan strategi "Huawei Inside", berbeda dengan Xiaomi yang membuat pabrik mobil sendiri.
- Huawei menjual sistem autonomous driving (setara FSD Tesla) dan smart cabin ke pabrikan mobil seperti Seres, Chery, dan Changan.
- Sistem Huawei disebut-sebut lebih mulus daripada Tesla, terutama di jalanan Cina, karena kemampuan mobil Huawei untuk "berbicara" dengan infrastruktur pintar (lampu merah, jalan pintar) yang juga dibangun oleh Huawei.
- Pergerakan Huawei dari jaringan chip hingga mobil AI menunjukkan pergeseran dan perebutan arah teknologi dunia.
"Huawei itu enggak bikin pabrik mobil kayak Xiaomi, bikin mobil sendiri. Mereka sadar bikin mobil tuh marginnya tipis, capek. Jadi mereka pakai strategi Huawei Inside."
Technological Decoupling dan Posisi Indonesia [10:39]
- Fenomena "technological decoupling" terjadi, di mana dunia akan memiliki dua standar internet, dua standar chip, dan dua ekosistem (blok barat dan blok timur).
- Indonesia berada di tengah-tengah, menggunakan infrastruktur Huawei tetapi kiblat gadget bisnis masih ke Barat.
- Pesan pentingnya adalah perubahan kekuatan dunia; AS tidak lagi memegang kendali mutlak, dan Huawei membuktikan bahwa perusahaan yang dihajar pun bisa bangkit kembali.
- Indonesia perlu meniru mentalitas Huawei sebagai underdog, berani berinvestasi gila-gilaan di R&D, dan mengadopsi "wolf culture" karena masa depan pertarungan kekuasaan ada di ranah "tech sovereignty".
"Fenomena yang terjadi itu namanya technological decoupling. Dunia bakal nanti punya dua standar internet, dua standar chip, dua ekosistem antara blok barat sama blok timur."