Menu
KARHUTLA: PROFESOR INI KELUARGANYA BERKALI-KALI DIANCAM!‼️ APA YANG DIA KETAHUI!?

KARHUTLA: PROFESOR INI KELUARGANYA BERKALI-KALI DIANCAM!‼️ APA YANG DIA KETAHUI!?

Deddy Corbuzier

1,722,086 views • 2 days ago Save 75 min 6 min read

Video Summary

Duka mendalam menyelimuti upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, di mana 10 petugas dan relawan gugur dalam tugasnya. Di tengah tragedi ini, terungkap praktik mengerikan: perusahaan diduga sengaja membakar lahan demi klaim asuransi, bukan hanya untuk membuka lahan sawit.

Profesor Bambang Herosaharjo, seorang ahli forensik penyebab kebakaran yang telah berkali-kali digugat oleh perusahaan, membeberkan berbagai masalah kompleks di balik karhutla. Mulai dari intimidasi dan ancaman terhadap dirinya dan keluarga, hingga data kerusakan lahan yang tidak akurat dilaporkan ke pemerintah. Ia juga menyoroti pola kebakaran gambut yang sulit dipadamkan, dampak perubahan iklim ekstrem seperti "El Nino Godzilla", serta kelalaian mitigasi dan penegakan hukum yang lemah. Kasus ini menyoroti adanya motif ekonomi gelap di balik bencana lingkungan yang merenggut nyawa dan merusak alam.

Short Highlights

  • 10 petugas dan relawan gugur dalam upaya pemadaman karhutla.
  • Perusahaan diduga sengaja membakar lahan untuk klaim asuransi.
  • Ahli forensik Prof. Bambang Herosaharjo digugat berkali-kali karena mengungkap fakta kebakaran.
  • Data kerusakan lahan yang dilaporkan ke pemerintah dinilai tidak akurat.
  • Pola kebakaran gambut dan dampak "El Nino Godzilla" mempersulit penanganan.
  • Kelalaian mitigasi dan penegakan hukum menjadi sorotan.
  • Motif ekonomi gelap di balik bencana lingkungan terungkap.

Key Details

Duka untuk Petugas yang Gugur [00:00:00]

  • 10 petugas dan relawan gugur dalam upaya pemadaman karhutla di Kalimantan.
  • Nama-nama yang gugur di Kalimantan: Ahmad Rizani, Ahmadine, Aris Setyo, Nurdin.
  • Nama-nama yang gugur di Bromo: Sukaris, Wisnu Yuda, Hendra Roni, Sefriel Ardiansyah, Munawi, Suraji.

    "Kami semua mengucapkan bela Sukawa, mudah-mudahan keluarga yang ditinggalkan kuat."

Ancaman dan Gugatan Terhadap Ahli [00:04:30]

  • Profesor Dr. Ir. Bambang Herosaharjo, ahli forensik penyebab kebakaran, telah digugat lima kali.
  • Gugatan berasal dari perusahaan yang diproses di pengadilan.
  • Nilai gugatan mencapai ratusan miliar.

    "Gara-gara ngomongin kebakaran. Sebagai saksi alih. Sampai ratusan miliar."

Serangan Fisik dan Intimidasi [00:07:10]

  • Selain gugatan, ada serangan lain seperti mobil yang mengikuti.
  • Terjadi tindakan pengancaman dan intimidasi yang juga berdampak pada keluarga.
  • Ada upaya menyebarkan informasi negatif seperti "Pro BHS dipolisikan" ke anak.

    "Bayangkan oleh update ya. Jadi ketika senangin kasus, tau-tau anak saya terima, terima apa nombor ya, dari kawannya, di situ tulis, Pro BHS dipolisikan."

Perlindungan Hukum untuk Saksi dan Ahli [00:09:30]

  • Terdapat undang-undang yang melindungi pejuang lingkungan dari gugatan.
  • Mahkamah Konstitusi memutuskan ahli tidak boleh digugat.
  • Putusan terakhir menggunakan dasar "anti-slap" yang menganggap intimidasi sebagai teror.

    "Jadi sebetulnya itu di, kalau, maaf saya potong. Kalau di undanganan 3.2.2009, itu ada itu. Bahwa yang namanya pejuang lingkungan, itu tidak boleh digugat segala macam."

Laporan Karhutla yang Janggal [00:15:00]

  • Perdebatan mengenai data luas lahan terdampak karhutla.
  • Laporan ke Presiden menyebutkan hanya 639 hektare yang tersisa, sementara data lain menyebut 202 ribu hektare.
  • Presiden Prabowo sendiri menyatakan kaget dengan laporan tersebut.

    "Yang gue bilang adalah, masa waktu kabut asapnya terjadi. Kalau luasan hektarnya, berdasarkan data ya, 2,6 juta. 22. Yang 2015 lebih parah."

Hotspot Bukan Indikator Utama [00:19:00]

  • Hotspot hanya indikasi peningkatan suhu permukaan, bukan bukti kebakaran.
  • Satelit dengan resolusi rendah seringkali tidak bisa menembus asap tebal.
  • Data hotspot yang dilaporkan bisa menyesatkan.

    "Kenapa kok yang jadi indikator itu justru hotspot? Jadi kalau hotspot itu, turun, maka itu dia gak berhasil."

Dampak Perubahan Iklim Ekstrem [00:21:30]

  • Indonesia memasuki periode "El Nino Godzilla" yang terjadi 150 tahun sekali.
  • Peningkatan suhu di Pasifik juga naik, diperkirakan bertahan hingga Februari 2027.
  • Kondisi ini diperparah oleh fenomena "super El Nino".

    "Nah, termasuk apa yang terjadi sekarang, menampakkan lengkapi tadi, kita ini sekarang masuk ke periode, 150 tahun Il Nino."

Kesalahan Penilaian dan Laporan [00:24:00]

  • Laporan yang optimis tentang selesainya karhutla pada Desember atau November tidak sesuai dengan data.
  • Proyeksi hujan yang berbeda antara BMKG, NASA, dan ASMC.
  • Adanya potensi kehilangan kesempatan memperbaiki situasi karena asumsi yang salah.

    "Tapi di, datanya NASA, di datanya NOAH, di datanya ASMC tadi, ini belum, karena dalam hitungan periodik, September, Oktober, November, kalkulasinya itu masih kering gitu."

Tantangan Penanganan Kebakaran Gambut [00:26:00]

  • Kebakaran gambut sangat sulit dipadamkan karena sifatnya yang menyerap air.
  • Teknik "kanal blocking" dan "tendon" diperlukan untuk menampung air.
  • "Ground fire" terjadi di bawah permukaan gambut, membuatnya sulit dideteksi.

    "Jadi, begini ya, ketika kita berapan dengan gambut itu, apa namanya, tidak sederhana seperti yang kita bayangkan."

Kekecewaan Terhadap Informasi Awal [00:30:00]

  • Kepedulian terhadap informasi awal kebakaran hutan lahan seringkali diabaikan.
  • Contoh kasus tahun 1998 di Kalimantan Timur, di mana peringatan El Nino diabaikan.
  • Akibatnya, terjadi kebakaran 11 juta hektar dan lebih dari 500 korban jiwa.

    "Pertama, tahun 1998. Jadi saat, 97-98. So this has been a long time ago."

Peran "Green Policing" di Riau [00:33:00]

  • "Green Policing" yang dipimpin oleh Kapolda Riau saat itu berhasil mencegah kebakaran meluas.
  • Persiapan pasukan pemadam dan helikopter menjadi kunci keberhasilan.
  • Riau berhasil keluar dari status penyumbang emisi terbesar.

    "Beliau juga kan ketika butuh pasukan pemadam, guna butuh helikopter. Polisial ini mungkin harus kita sebut dong, namanya."

Motif Pembakaran untuk Asuransi [00:37:00]

  • Terungkap bahwa perusahaan diduga sengaja membakar lahan untuk klaim asuransi.
  • Modusnya adalah membakar tanaman sawit yang sudah tidak produktif atau gagal panen.
  • Klaim asuransi bisa mencapai jutaan USD.

    "Bahkan ada perusahaan-perusahaan yang sengaja membakar supaya dapat asuransi. Iya. Iya. Saya ngakami sendiri itu."

Kompleksitas Masalah Sawit [00:44:00]

  • Sawit bukan tanaman asli Indonesia, masuk tahun 1948 sebagai tanaman hias.
  • Pembukaan lahan sawit di gambut menimbulkan tantangan tersendiri.
  • Perlu adanya substitusi pekerjaan dan diversifikasi ekonomi bagi masyarakat.

    "Jadi, apa namanya, bos besar tuh bilang. Masa sih dengan teknologi dan kemampuan. Kita tidak bisa tanggulangi."

Penegakan Regulasi yang Lemah [00:50:00]

  • Regulasi pencegahan kebakaran hutan lahan seringkali tidak ditegakkan.
  • Perlu adanya penegakan hukum yang kuat terhadap pelaku pembakaran.
  • Perbedaan antara masyarakat adat tradisional dan perorangan yang membakar lahan.

    "Karena di dalam regulasi sendiri, ini namanya pengendalian kebakaran itu tiga. Makanya namanya kendali. Bisa dikendalikan karena itu perbuatan manusia."

Status Bencana dan Kelalaian Pemerintah [00:57:00]

  • Status bencana karhutla belum ditetapkan sebagai bencana nasional karena indikator korban jiwa yang belum memenuhi syarat.
  • Kelalaian pemerintah pusat dan daerah dalam mitigasi dan penanganan.
  • Komunikasi publik yang buruk dari pemerintah daerah.

    "Gini, sebetulnya kalau berdasarkan putusan maaf-maaf konstitusi, ya, mestinya kan 5. Indikatornya itu. Ternyata 3 boleh."

Harapan Publik dan Peran Media [01:05:00]

  • Masyarakat masih berharap pada tokoh publik seperti Dedy Corbuzier untuk bersuara.
  • Pentingnya akurasi informasi dan kesadaran akan dampak karhutla.
  • Festival sawit yang tetap diadakan di tengah asap menuai kritik.

    "Om dad walau bagaimanapun dinamika yang terjadi ya. Masyarakat tuh kan masih berharap sama om."

Other People Also See