Menu
Orang yang Pintar Akan Kalah Sama Orang yang Jago Ngomong?! | Helmy Yahya Bicara

Orang yang Pintar Akan Kalah Sama Orang yang Jago Ngomong?! | Helmy Yahya Bicara

Helmy Yahya Bicara

144,954 views 3 days ago Save 51 min 6 min read

Video Summary

Dalam percakapan yang mendalam, Helmy Yahya dan Wahyu Wibowo membahas seluk-beluk public speaking, menekankan bahwa kemampuan mendengarkan dan memahami audiens jauh lebih krusial daripada sekadar berbicara.

Mereka menyoroti bagaimana banyak orang salah kaprah menganggap public speaking hanya tentang kemampuan berbicara, padahal riset, pemahaman audiens, dan adaptasi bahasa adalah kunci utama. Wahyu Wibowo memaparkan bahwa public speaking dimulai dari 'listening' dan 'reading' sebelum 'speaking', serta pentingnya empati untuk memposisikan diri di hadapan audiens. Keduanya juga membahas pergeseran lanskap media dari konvensional ke digital, di mana 'adaptability' dan 'agility' menjadi kunci untuk bertahan, serta pentingnya 'appropriateness' atau kepantasan dalam setiap aspek komunikasi, mulai dari pilihan kata hingga bahasa tubuh.

Short Highlights

  • Public speaking dimulai dari mendengarkan dan memahami audiens, bukan hanya berbicara.
  • Pentingnya riset, pemahaman audiens, dan adaptasi bahasa dalam komunikasi.
  • Pergeseran media dari konvensional ke digital menuntut 'adaptability' dan 'agility'.
  • 'Appropriateness' atau kepantasan dalam komunikasi meliputi pilihan kata, bahasa tubuh, dan penampilan.
  • Belajar dari berbagai sumber, termasuk role model yang disukai maupun tidak disukai, sangat penting.
  • Kemampuan non-verbal dan visual sangat dominan dalam menilai seseorang.

Key Details

Pentingnya Komunikasi dan Kesalahpahaman Publik [00:06]

  • Banyak kegaduhan terjadi karena orang menganggap komunikasi tidak penting.
  • Kesalahpahaman dan reaksi berlebihan sering muncul akibat komunikasi yang buruk.
  • "Sing ngomong ra mikir, sing mikir ngomong" menjadi penyebab utama kisruh.

    "Oleh karena itu, untuk ketiga kalinya dalam dua bola ini saya memanggil atau mengundang satu orang junior di bawah saya."

Peran MC dan Stigma Profesi [02:25]

  • MC, presenter, reporter, dan interviewer sering mendapat stigma yang sama.
  • Profesi ini dianggap remeh-temeh dan hanya sekadar "ngomong doang".
  • Padahal, ada bekal dan persiapan yang tidak terlihat di balik profesi ini.

    "Jadi ee ee masih aja ada orang mengatakan MC itu ya dianggap profesi yang remeh-temeh gitu ya, yang kadang-kadang ya dalam kasus choki kan lain lagi tuh dia merasa tidak dihargai, dilecehkan."

Kunci Public Speaking: Kenali Audiens Anda [04:08]

  • Kesalahan fatal MC adalah tidak memahami audiens.
  • Contoh kasus MC yang salah memilih permainan di pesta ulang tahun tokoh masyarakat.
  • Prinsip utama MC adalah "Know your audience".

    "MC-nya seorang anak muda tiba-tiba yang memainkan game itu loh. Tolong cek KTP-nya gitu ya. Yang siapa yang paling tua di sini gitu-gitu."

Definisi Public Speaking: Mendengar Dulu [05:53]

  • Public speaking adalah ilmu mendengar, bukan hanya berbicara.
  • Banyak yang salah kaprah menganggap public speaking hanya tentang ngomong.
  • Pentingnya riset dan mendapatkan 'knowledge' sebelum berbicara.

    "Public speaking itu ilmu mendengar, Mas El mendengar juga. Mendengar dulu. Jadi bukan ngomong dulu."

Persiapan Pembicara: Audiens dan Konsep Acara [07:06]

  • Persiapan pembicara meliputi identifikasi audiens (usia, latar belakang, generasi, lokasi).
  • Karakteristik audiens dipengaruhi oleh latar belakang budaya dan lokasi.
  • Konsep dan tujuan acara sama pentingnya dengan audiens.

    "Saya tanya audiens-nya siapa, latar belakangnya bagaimana? Kelompok rentang usianya kalau perlu audiens ya. He audiens-nya semua."

Adaptasi Bahasa dan Diksi [08:52]

  • Pemilihan bahasa dan diksi sangat menentukan keberhasilan komunikasi.
  • Pentingnya menyesuaikan bahasa dengan kapasitas intelektual dan latar belakang audiens.
  • Menggunakan istilah yang mudah dipahami, contohnya "ngebor" daripada "eksplorasi migas".

    "Tapi kalau kita masuk ke masyarakat yang tidak punya background-background yang tadi kita sebut, apa kata gantinya selain eksplorasi migas?"

Belajar dari Khairul Tanjung dan Analogi [10:25]

  • Belajar public speaking dari Khairul Tanjung yang menekankan penggunaan bahasa audiens.
  • Contoh penggunaan analogi "bubble" seperti deterjen untuk menjelaskan konsep ekonomi.
  • Pentingnya menyesuaikan penyampaian dengan audiens, seperti yang dilakukan Khairul Tanjung.

    "Dia datang kecir kita pakai celana pendek, pakai sendal jepit. Lu bayangin nih chatting nyebut economic bubble."

Pergeseran Media dan Adaptabilitas [23:21]

  • Perubahan pola industri media dari konvensional ke digital.
  • Pentingnya 'adaptability' dan 'agility' untuk bertahan di industri media.
  • Banyak profesional media konvensional kesulitan beradaptasi dengan new media.

    "Jadi saya pikir orang yang mau sukses, mau bertahan itu adalah kemampuan adaptability. Tuh, adaptability."

Tantangan Transisi ke New Media [26:04]

  • Banyak teman-teman broadcast yang mencoba masuk ke podcast dan YouTube, namun tidak semua berhasil.
  • Penyebab kegagalan adalah perubahan 'mindset' yang sulit.
  • Produksi TV yang 'jelimet' dan mahal berbeda dengan produksi digital yang lebih efisien.

    "Jadi mindset itu yang ternyata enggak gampang buat orang-orang yang punya latar belakang di broadcast terutama di televisi, Mas."

Perbandingan Nilai Iklan TV vs. Podcast [30:03]

  • Perbandingan harga iklan di TV (Rp 50-150 juta per 15 menit) dengan podcast (mulai Rp 300 juta).
  • Pergeseran 'karpet merah' dari televisi ke influencer dan content creator.
  • Setiap orang kini bisa menjadi 'media company' dengan modal kecil.

    "TV enggak ada harganya ya. Ya, nonton lebih banyak ya. Di situ saya mulai kebuka mindsetnya, marketnya, industrinya, kemudian audiens-nya ya sudah mulai bergesel, sudah mulai berubah."

Pentingnya Bahasa Tubuh dalam Komunikasi [34:31]

  • Komunikasi tidak hanya lisan, tetapi juga melibatkan bahasa tubuh (body language).
  • Teori Albert Mehrabian dan Jerome Brenner menunjukkan dominasi visual dalam komunikasi.
  • Visual, gesture, dan ekspresi sangat penting karena manusia adalah makhluk visual.

    "Jadi, ee Wu barangkali bisa menerangkan kembali apa sih yang harus diperhatikan. Boleh dipraktikkan gitu. misalnya gerakan tangan aja atau apa tuh maknanya ya?"

Mengelola Bahasa Tubuh yang Efektif [38:02]

  • Gerakan tubuh sebaiknya natural dan positif, tidak dibuat-buat.
  • Hindari gestur tertutup seperti tangan dilipat atau dimasukkan ke saku.
  • Gestur tangan di belakang punggung bisa diartikan sebagai inspeksi atau posisi berkuasa.

    "Lepas aja sih, natural aja. Takutnya kalau dibuat-buat nanti malah kaku. As long as gerakan kita itu positif."

Kepantasan (Appropriateness) dalam Komunikasi [43:57]

  • 'Appropriateness' atau kepantasan adalah kunci dalam komunikasi non-verbal.
  • Meliputi pemilihan pakaian, diksi, warna pakaian, dan tindak tanduk.
  • Konsep "the appearance of impropriety" menunjukkan ketidakpantasan yang bisa dinilai publik.

    "Istilahnya appropriateness, Mas, kepantasan. Pantas atau enggak? Bukan termasuk pemilihan pakaian kan ya."

Bahasa Tubuh Saat Duduk dan Berdiri [46:41]

  • Menyilangkan kaki saat duduk bisa dianggap tidak sopan, terutama bagi laki-laki dalam konteks Indonesia.
  • Postur duduk tegak dan tidak menyender berlebihan penting dalam acara formal.
  • Contoh public figure seperti Soeharto, Burhanuddin Jusuf (Pak Ical), dan Jokowi yang menjaga postur duduk.

    "Kalau laki-laki itu jadi langsung interpretasinya beda. Paling enak tuh memang dominannya negatif. Hilangkan kaki tangan."

Sumber Belajar dan Role Model [49:48]

  • Belajar dari berbagai sumber: buku, YouTube, film, pengalaman orang tua.
  • Mendengarkan radio dan memilih penyiar yang tepat juga bisa menjadi sumber belajar.
  • Mengamati dan belajar dari berbagai role model, termasuk yang tidak disukai, sangat penting.

    "Banyak, Mas. Dari mana ya? Buku iya. YouTube. Iya. YouTube sekarang banyak dari film juga."

Pentingnya Persiapan dan Personal Branding [55:47]

  • Profesi MC dan public speaker tidak bisa dianggap enteng.
  • Perlu persiapan matang, riset, dan membangun personal branding.
  • Wawasan yang luas dan nilai-nilai pribadi yang baik sangat mendukung kemampuan berbicara.

    "Ya, sekali lagi, Anda kalau mau jadi public speaker jangan menggampangkan. He ya profesi ini."

Other People Also See