Menu
GEGER‼️ KARHUTLA ADALAH ECO GENOCIDE⁉️ - Kiki Taufik

GEGER‼️ KARHUTLA ADALAH ECO GENOCIDE⁉️ - Kiki Taufik

CERITA UNTUNGS

17,155 views • 4 days ago Save 54 min 9 min read

Video Summary

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar bencana alam, melainkan sebuah "ekogenosida" yang mengancam ekosistem dan kesehatan manusia dalam jangka panjang. Dampaknya meluas, menyebabkan kematian satwa liar, kerusakan paru-paru manusia akibat paparan asap PM 2.5, dan menghambat perkembangan kognitif anak-anak. Meskipun pemerintah mengklaim penanganan, data menunjukkan ribuan titik sumber asap masih aktif, terutama di lahan gambut yang rentan terbakar.

Isu ini diperparah oleh pernyataan pejabat yang dianggap minim empati, seperti klaim adaptasi paru-paru terhadap asap. Padahal, riset menunjukkan paparan asap kronis pada anak-anak dapat menurunkan IQ dan menghambat perkembangan. Keterlambatan penanganan dan pemberian izin konsesi baru di lahan gambut memperburuk situasi, sementara sanksi terhadap perusahaan pembakar lahan dinilai belum efektif. Solusi jangka panjang meliputi penghentian izin baru, restorasi gambut, dan penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pembakaran.

Short Highlights

  • Karhutla disebut sebagai "ekogenosida" karena dampaknya yang merusak ekosistem dan kesehatan manusia.
  • Ribuan titik sumber asap masih aktif, terutama di lahan gambut.
  • Paparan asap PM 2.5 menghambat perkembangan kognitif dan fisik anak.
  • Pernyataan pejabat tentang "adaptasi asap" dinilai minim empati dan keliru secara medis.
  • Sanksi terhadap perusahaan pembakar lahan belum efektif, dengan sebagian besar denda tidak terbayarkan.
  • Pemberian izin konsesi baru di lahan gambut memperparah risiko kebakaran.
  • Solusi jangka panjang meliputi penghentian izin baru, restorasi gambut, dan penegakan hukum yang tegas.

Key Details

Karhutla sebagai Ekogenosida [00:02:04]

  • Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Indonesia selama hampir 40 bulan berdampak sangat besar terhadap manusia dan ekologi.
  • Banyak orangutan dan spesies lain mati akibat kebakaran lahan gambut.
  • Dampak karhutla tidak hanya pada individu manusia, tetapi juga pada seluruh ekosistem.

    "Jadi memang kebakaran hutan dan lahan daput yang saat ini terjadi di Indonesia yang sudah hampir 40 bulan. Ini kan dampaknya sangat dasar ya. Terhadap bukan hanya manusia yang ada tinggal di sana, tetapi juga ekologi, ekosistem yang ada tinggal di sana."

Prediksi El Nino dan Ketidaksiapan Pemerintah [00:03:18]

  • Karhutla diprediksi akan terjadi karena El Nino yang kuat di awal tahun 2026.
  • Ahli sudah memberikan peringatan kepada pemerintah, perusahaan, dan masyarakat mengenai potensi El Nino yang kuat.
  • Pemerintah dan perusahaan dinilai tidak bersiap menghadapi El Nino, menyebabkan kebakaran hutan dan lahan gambut yang menghasilkan asap pekat dan berbahaya.

    "Di awal tahun 2026 ini, sebenarnya banyak ahli, baik itu dari Indonesia maupun dari luar, termasuk BKG, sudah memberikan perintahan kepada pemerintah, kepada perusahaan, kepada masyarakat."

Dampak Asap Berbahaya bagi Manusia [00:04:30]

  • Asap pekat dari kebakaran gambut mengandung zat berbahaya seperti PM 2.5.
  • Paparan asap dapat menyebabkan kerusakan paru-paru yang dampaknya bisa dirasakan bertahun-tahun kemudian.
  • Hal ini dianggap sebagai pembiaran masyarakat untuk mati perlahan tanpa bantuan.

    "Dan asap yang begitu kotak dan berbahaya ini mengandung jad-jad yang berbahaya, diantaranya ada PM 25. Kemudian ada jad-jad lain yang sangat berbahaya untuk di kehidupan manusia."

Klaim Adaptasi Asap yang Keliru [00:05:50]

  • Pejabat pemerintah mengklaim masyarakat sudah beradaptasi dengan asap.
  • Dokter paru menyatakan tidak ada adaptasi paru-paru terhadap asap; justru merusak, terutama pada anak-anak.
  • Pernyataan adaptasi dianggap keliru dan menunjukkan kurangnya empati.

    "Bagaimana kita beradaptasi gitu ya. Saya kemarin kebetulan diskusi dengan dokter paru. Dan dia menyampaikan, tidak ada paru-paru itu beradaptasi gitu."

Ancaman Kesehatan Balita [00:07:30]

  • Hingga 14 Oktober, tercatat 63.700 balita (0-5 tahun) menderita ISPA akibat paparan asap.
  • Angka ini terus meningkat, diperkirakan mencapai lebih dari 100.000 balita.
  • Peningkatan kasus ISPA akan terus terjadi selama asap masih ada.

    "Sampai tanggal 14 Oktober, data dari Dementerian Kesehatan itu menyampaikan bahwa paparan atau penderita kasus ISPA pada Balita, 0-5 tahun, itu sekitar 63.700 anak."

Titik Sumber Asap yang Masih Aktif [00:08:45]

  • Laporan pemerintah mengenai luas kebakaran yang tersisa dinilai tidak relevan dibandingkan titik sumber asap yang masih ada.
  • Titik sumber asap yang banyak, meskipun wilayahnya kecil, dapat memperburuk kondisi.
  • Data menunjukkan 11.632 sumber asap dari 4 Agustus hingga 18 Oktober, tersebar di seluruh Indonesia, terutama di wilayah gambut.

    "Untuk melihat berapa luasan yang terbakar, itu kan perlu dianalisis ya. Jadi, saya nggak ngerti bagaimana mereka keluar dengan angka 600 hektare itu."

Sumatera Selatan Menjadi Pemenang Titik Sumber Asap [00:10:00]

  • Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan lonjakan titik sumber asap terbanyak di bulan Oktober.
  • Tercatat 3.258 sumber asap di Sumatera Selatan dari 4 Agustus hingga 18 Oktober.
  • Asap dari Sumatera Selatan mengarah ke utara, berdampak ke Malaysia dan Singapura.

    "Nah, yang jadi, yang menarik ini adalah sebenarnya, kalau kita lihat titik sumber asap, itu justru Sumatera Selatan ini sekarang menjadi pemenang nih."

Dampak Jangka Panjang pada Anak [00:12:00]

  • Paru-paru anak masih dalam proses tumbuh kembang, imunitas belum matang, dan bernapas lebih cepat.
  • PM 2.5 dari asap kebakaran sangat berbahaya bagi anak, sulit dibersihkan, dan menghambat pertumbuhan.
  • Riset 2019 menunjukkan anak-anak yang terpapar asap kebakaran di Kalimantan mengalami hambatan tumbuh kembang dan kognitif yang lebih rendah.

    "Jadi memang, paru-paru anak-anak itu masih tumbuh gitu. Masih tumbuh, anak-anak itu bernapas lebih cepat."

Paparan Asap di Wilayah Terpencil [00:14:30]

  • Banyak wilayah di Kalimantan dan Sumatera yang terkecil dan minim fasilitas kesehatan.
  • Tenaga kesehatan terbatas, sehingga angka penderita ISPA bisa jauh lebih besar dari data resmi.
  • Masyarakat di wilayah terpencil terpaksa menghirup udara berbahaya selama berhari-hari.

    "Banyak wilayah-wilayah yang sangat terkecil, di Kalimantan, di Singapura, yang mungkin, fasilitas kesehatan tidak ada."

Anak-anak Bermain di Tengah Asap [00:16:00]

  • Tim cegah api Greenpeace menyaksikan anak-anak bermain di lapangan yang berasap tanpa masker.
  • Dampak asap tidak langsung terasa, namun dapat merusak kesehatan dalam jangka panjang (10 tahun ke depan).
  • Anak-anak tidak punya pilihan selain bermain di luar karena rumah dan sekolah mereka memiliki ventilasi terbuka.

    "Anak-anak itu, mungkin udah gak, lagi, gak pakai master, gitu. Mereka main aja, di lapangan. Tapi kan, dampaknya itu, gak sekarang, gitu loh."

Proyek Strategis Nasional dan Kebakaran [00:19:30]

  • Kebakaran terjadi di Papua Selatan, bahkan berasal dari Proyek Strategis Nasional (PSN) Food Estate.
  • Asap dari Papua Selatan berdampak hingga ke Sulawesi.
  • Berbeda dengan kebakaran di Kalimantan dan Sumatera yang melibatkan perusahaan perkebunan.

    "Nah, kalau di Papua Selatan, tadi momen tuh, padahal itu, proyek Strategi Nasional."

Sanksi Perusahaan yang Tidak Efektif [00:21:00]

  • Pemerintah mengumumkan sejumlah perusahaan tersangka atau dibekukan izinnya, namun nama-nama tersebut tidak diungkapkan.
  • Malaysia dan Singapura telah merilis daftar perusahaan yang terkait dengan kebakaran lahan.
  • Dari tahun 2015-2019, total sanksi untuk perusahaan pembakar hutan mencapai Rp18,9 triliun, namun hanya Rp76,5 miliar yang dibayarkan.

    "Nah, kalau di Kalimantan, dan Sumatera, ini adalah, banyak perusahaan-perusahaan, baik sawit, KTI, yang menurut, pemerintah, mengumumkan beberapa kali, itu ada, ada, apa namanya, sejumlah perusahaan, yang tersantah, atau di, apa namanya, di Bekukan, Ijinnya."

Pola Kebakaran yang Berulang [00:25:00]

  • Kebakaran hutan di Indonesia sudah terjadi sejak tahun 1982, dengan pola yang berulang setiap musim kemarau.
  • Proyek sejuta hektare lahan gambut di Kalimantan pada tahun 1995-1996 menjadi pemicu kebakaran besar di tahun 1997.
  • Lahan gambut yang kering menjadi media yang mudah terbakar karena adanya rongga udara.

    "Jadi memang, kebakaran hutan di Indonesia itu, secara, historis, itu dimulai, tahun 82, 82, pernah-pernah kali itu bakaran, tapi karena waktu itu kan, belum rame ya, kemudian, mulai lagi ada yang besar, itu 97."

Peran Pemerintah dan Perusahaan dalam Kebakaran Gambut [00:28:00]

  • Pemerintah memberikan izin konsesi kepada perusahaan perkebunan sawit dan HTI di wilayah gambut.
  • Pembuatan kanal di lahan gambut untuk menetralkan sifat asamnya justru membuat gambut mengering dan mudah terbakar.
  • Perusahaan memiliki tanggung jawab untuk memastikan wilayah konsesi mereka aman dari api, sama seperti pemilik rumah yang bertanggung jawab jika rumahnya membakar tetangga.

    "Pemerintah ini mengelola negara, mereka dengan sadar, memberikan izin-kijin, untuk konsesi-konsesi, kelama sawit, konsesi HTI, di wilayah-wilayah gabut."

Keterlambatan Restorasi Gambut [00:31:00]

  • Badan Restorasi Gambut (BRG) dibentuk pada tahun 2016 untuk merestorasi lahan gambut.
  • Namun, BRG dibubarkan dan fungsinya dipindahkan ke kementerian lain dengan anggaran yang berkurang.
  • Baru setelah kebakaran hebat, pemerintah membentuk kembali badan pengelola gambut nasional.

    "Badan restorasi gabut, kemudian diperpanjang, jadi badan restorasi gabut, dan languruh, di periode ke-2."

Dampak Ekonomi dan Sosial Kebakaran [00:35:00]

  • Kebakaran hutan berdampak pada ekonomi negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, yang mengkritik Indonesia.
  • Kerugian ekonomi akibat asap diperkirakan mencapai puluhan triliun rupiah.
  • Generasi mendatang terancam mengalami penurunan kualitas hidup akibat dampak jangka panjang kebakaran.

    "Dan itu, apa namanya, berdampak juga, terhadap IQ-nya, terhadap dan lain sebagainya. Tingkat pendidikannya juga menjadi lebih rendah."

Solusi Jangka Panjang dan Penegakan Hukum [00:40:00]

  • Penghentian pemberian izin konsesi baru di lahan gambut.
  • Rehabilitasi dan restorasi lahan gambut secara masif.
  • Penegakan hukum yang transparan dan tegas terhadap perusahaan pelaku pembakaran.
  • Perusahaan asing yang berinvestasi di Indonesia harus dipaksa menjaga kelestarian hutan dan gambut.

    "Yang paling pertama, pemerintah harus lakukan adalah, stop dulu, jangan memberikan izin dulu, kemudian, lakukanlah, rehabilitasi, restorasi."

Peran Investor Asing dan Tanggung Jawab Regional [00:45:00]

  • Perusahaan dari Singapura dan Malaysia yang berinvestasi di Indonesia juga harus bertanggung jawab atas kebakaran hutan.
  • Negara-negara ASEAN perlu bekerja sama secara tegas dalam menangani kebakaran hutan dan lahan.
  • Singapura, sebagai pusat finansial, dapat menekan perusahaan-perusahaan yang teridentifikasi melakukan pembakaran.

    "Nah, yang kedua, Malaysia, mereka, memang, tidak punya, lahan seluas Indonesia, tapi, perbedaannya, tidak terlalu, jauh pelang, gitu."

Keuntungan Bisnis Sawit dan Dampaknya pada Masyarakat [00:50:00]

  • Keuntungan besar dari bisnis sawit hanya dinikmati oleh segelintir kelompok, bukan masyarakat luas.
  • Pekerja perkebunan sawit dan pertambangan seringkali hanya menjadi buruh dengan upah rendah.
  • Hal ini menunjukkan bahwa kekayaan dari sumber daya alam tidak dinikmati secara merata oleh masyarakat.

    "Jadi sebenarnya, uang-uang ini, keuntungan-keuntungan ini, itu lari kepada, kelompok-kelompok kecil aja, kalau liga lagi, yang makin menguat itu, bukan masyarakat yang ada."

Membuka Lahan Tanpa Bakar [00:55:00]

  • Membuka lahan tanpa bakar adalah praktik yang seharusnya dilakukan, namun membutuhkan modal dan tenaga lebih besar.
  • Pembakaran lahan dianggap sebagai cara termudah dan termurah untuk membersihkan lahan.
  • Perusahaan seringkali menjual kayu bernilai tinggi terlebih dahulu untuk menutupi modal pembukaan lahan.

    "Jadi sebenarnya, sejak 2015 itu, kemudian, para api itu, mencari cara, ada namanya, ada istilahnya, membuka lahan, tanpa bakar."

Harapan Akhir Kebakaran [00:58:00]

  • Kebakaran lahan gambut hanya bisa padam dengan hujan yang intensif dan berkelanjutan.
  • Operasi modifikasi cuaca dapat membantu, tetapi tidak cukup tanpa hujan alami.
  • Harapannya, kebakaran segera berakhir dengan datangnya musim hujan.

    "Jadi, apa, memang bagus, ada operasi, modifikasi cuaca, gitu ya, tapi, kalau, hujannya tidak intensif, maka, yang tadinya, udah hampir padam, bangun lagi, tuh, kering lagi, bangun lagi."

Other People Also See