Billy Hartono Salim: Meninggalkan Dunia Auditor dan Terjun ke Beauty Business | Helmy Yahya Bicara
Helmy Yahya Bicara
9,613 views • 21 hours ago Save 53 min 4 min read
Video Summary
Billy Hartono Salim, pendiri Victoria Care Indonesia (VCI), mengungkapkan bagaimana integritas dan ketajaman insting bisnis membawanya dari seorang akuntan yang bosan menjadi raja distribusi kosmetik. Meski sempat terpuruk akibat krisis moneter 1998, ia memilih melunasi seluruh kewajibannya meski harus menjual aset pribadi, sebuah langkah yang justru membangun kepercayaan yang tak ternilai bagi bisnisnya di masa depan.
Kini, dengan valuasi perusahaan mencapai Rp4 triliun, Billy menekankan pentingnya beradaptasi dengan tren wellness dan kecantikan. Ia kini beralih menjadi komisaris, mendelegasikan operasional kepada generasi muda, dan berfokus pada berbagi ilmu serta membimbing brand lokal agar mampu bertahan di tengah ketatnya persaingan pasar global.
Short Highlights
- Strategi bisnis utama Billy Hartono Salim:
- Distribusi adalah kunci utama sebelum memproduksi barang sendiri.
- Integritas dan kejujuran dalam melunasi utang saat krisis menjadi modal kepercayaan.
- Fokus pada produk lokal yang berkualitas tanpa harus meniru gaya barat.
- Prinsip 3S: Smart, Speed, dan Simple dalam pengambilan keputusan.
- Pentingnya memposisikan produk di tempat strategis (Raja Gondola).
- Delegasi kepada profesional untuk keberlanjutan perusahaan.
- Transisi ke sektor wellness yang menggabungkan kesehatan dan kecantikan.
Related Video Summary
- BREAKING NEWS! Ashanty Tetap Digugat Rp100 Miliar Meski Ayu Eks Karyawannya Sudah Ditahan Kepolisian
- Z10NIST TAU INI KELEMAHAN MUSLIM YANG MEMBUAT MEREKA MENANG, SAMPE SEKARANG! - Ust. Salman Iskandar
- Masih Muda Jadi Miliarder Berkat Jualan Produk Digital, Gini Caranya...
- Semua AI Berbayar Bisa digunakan GRATIS
Key Details
Awal Karir dan Pilihan Jurusan [00:00]
- Billy Hartono Salim awalnya masuk jurusan akuntansi karena tuntutan ekonomi, meski ia tidak menyukainya.
- Pengalaman bekerja di kantor akuntan publik dan perusahaan minyak memberikan disiplin tinggi dalam pelaporan dan SOP.
-
kalau kita akuntan kan kita bisa ngitung dulu paling itu dulu ya gak ngamur gak konyol gitu ya.
Memulai Bisnis Distribusi [06:20]
- Memulai bisnis distribusi tahun 1989 dengan 5 karyawan, mengambil barang dari pasar pagi untuk disuplai ke supermarket.
- Billy terjun langsung melakukan pengiriman barang sendiri untuk memastikan pelayanan terbaik.
-
Saya ambil barang dari pasar pagi, saya jual ke supermarket, Pak. Dan saya dengar, Bapak antarin sendiri ya? Iya, antarin sendiri.
Ujian Krisis Moneter 1998 [08:30]
- Krisis 1998 menjadi titik terendah saat pelanggan utamanya bangkrut dan gudang terancam kerusuhan.
- Billy memilih melunasi kewajiban utang dengan menjual aset pribadi, termasuk mobil kesayangannya.
-
Saya harus jual itu. Itu waktu mercy saya harus keluar dari garasi, diambil oleh pembeli, menitikan air mata, Pak.
Strategi Raja Gondola [11:45]
- Dikenal sebagai 'Raja Gondola' karena kemampuannya menguasai ruang display di supermarket melalui manajemen budget promosi.
- Membangun kepercayaan dengan prinsipal dan pemilik supermarket untuk mendapatkan posisi produk yang strategis.
-
Jadi saya kuasai, saya bayar per tahun. Nah, orang lain gak bisa masuk.
Mendirikan Victoria Care Indonesia [13:30]
- Mendirikan VCI pada tahun 2005 untuk memiliki kendali penuh atas brand sendiri, mengurangi ketergantungan pada prinsipal.
- VCI kini sudah IPO dengan valuasi mencapai Rp4 triliun.
-
Jadi kita harus punya brand sendiri lah. Nah, itu kenapa saya harus ciptain brand sendiri, dan kita bisa lebih leluasa.
Inovasi dan Brand Lokal [15:10]
- Mengedepankan produk lokal seperti Miranda dan Herboris tanpa harus melakukan branding yang kebarat-baratan.
- Menekankan bahwa produk lokal memiliki potensi besar jika dikemas dan dipasarkan dengan benar.
-
Memang kita harus di bisnis itu memang harus benar-benar kita cinta dulu lah.
Pelajaran dari Pandemi [19:50]
- Saat pandemi, VCI meluncurkan produk sanitizer 'Secret Clean' yang menjadi penyelamat omzet perusahaan.
- Billy membagikan produk secara gratis ke masyarakat sebagai bentuk tanggung jawab sosial.
-
Kenapa Pak? Habis barang? Bukan. Barang waktu itu kan langka sekali. Saya punya komitmen pada waktu itu. Produksi pertama, itu saya harus bagikan ke masyarakat dulu.
Prinsip 3S dalam Bisnis [23:00]
- Menerapkan prinsip 3S (Smart, Speed, Simple) sebagai budaya perusahaan untuk tetap relevan.
- Mengakui kesalahan masa lalu dalam pengambilan keputusan stok barang yang terlalu berlebihan saat tren viral.
-
Tapi sekarang, tren berubah Pak. sekarang. Jadi viral itu, hanya paling cuman 2-3 bulan aja. Muncul viral yang lain-lain.
Regenerasi dan Kepemimpinan [25:00]
- Kini menjabat sebagai komisaris dan menyerahkan posisi CEO kepada profesional, Pak Sumardy Wijaya.
- Memberikan ruang bagi tim untuk mengambil keputusan dan belajar dari kesalahan.
-
Saya memberikan mereka, kesempatan untuk ngambil keputusan. Oke. Walaupun itu salah.
Fokus ke Industri Wellness [27:00]
- Sedang melirik peluang di industri wellness dan klinik kecantikan yang pasarnya terus berkembang.
- Menyiapkan Secret Garden Village di Bali sebagai pusat edukasi dan wellness.
-
Jadi kita memikirkan ke depan, gak ada salah ke health juga, kesehatan gitu. Karena beauty sekarang udah cukup banyak.
Menghargai Karyawan [32:00]
- Menekankan pentingnya menghargai setiap orang di perusahaan, dari level bawah hingga atas.
- Mengakui bahwa kelemahan terbesarnya adalah terlalu mudah percaya pada orang lain, namun itu juga menjadi kelebihannya.
-
Kita harus menghargain semua orang, apapun yang kontribusi apapun yang dia berikan, apalagi kepada semua orang, lah.
Pesan untuk Masa Depan [35:00]
- Dunia berubah sangat cepat; perusahaan akan hancur jika tidak mengikuti perubahan tren.
- Menutup dengan ajakan untuk terus berinovasi dan beradaptasi dengan perubahan zaman.
-
Dan kita akan, hancur atau kita akan habis, apabila kita tidak ngikutin, perubahan itu.