Omzet 900 Juta Perbulan Dari Dapur MBG, Gratiskan Sekolah Untuk Anak Yatim & Guru
PecahTelur
28,018 views • 7 months ago Save 38 min 9 min read
Video Summary
Kisah Rohmat dan Laila Aknia adalah bukti ketekunan dan keyakinan. Rohmat, yang tumbuh dalam kemiskinan ekstrem hingga harus mengamen di usia SD, kini menjadi sociopreneur sukses. Laila, dengan latar belakang keluarga non-Muslim yang kemudian memeluk Islam, mendukung visi suaminya. Bersama, mereka memimpin empat perusahaan, termasuk yang berfokus pada manajemen properti dan yang mendukung program pemerintah MBG (Model Bisnis Generasi). Salah satu fakta menariknya adalah bahwa salah satu perusahaan Laila, yang berawal dari keinginan pribadi untuk membangun sekolah yang terjangkau dan berkualitas, kini telah berkembang menjadi dua institusi pendidikan, Albina Preschool dan Kutab Albina.
Short Highlights
- Rohmat mengalami masa kecil yang sangat sulit, bahkan harus mengamen di usia SD karena kemiskinan ekstrem setelah ayahnya meninggal.
- Laila, yang keluarganya awalnya non-Muslim, kemudian memeluk Islam dan mendukung suaminya dalam perjalanan mereka.
- Pasangan ini kini memimpin empat perusahaan, berfokus pada manajemen properti, dan terlibat aktif dalam program MBG yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia hingga tahun 2045.
- Program MBG digambarkan sebagai program jangka panjang yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat, mulai dari ibu hamil hingga siswa SMA, dengan tujuan utama peningkatan SDM.
- Laila mendirikan yayasan pendidikan Albina yang berfokus pada penanaman kecintaan pada Al-Qur'an dan hafalan, serta memberikan pendidikan gratis bagi anak yatim dan anak guru.
- Program MBG bukan sekadar bisnis, tetapi merupakan gerakan sosial komersial yang menggerakkan dana idle masyarakat menjadi manfaat ekonomi dan sosial yang luas.
Related Video Summary
- Viral, Burung Unta Berkeliaran di Jalan Raya Bandung | Kabar Hari Ini
- JANGAN SALAH SANGKA! Ini Penyebab Utama Ekonomi Indoensia MAKIN HANCUR! - HNI
- "JANGAN CUMA BIKIN RESEP, TAPI MANAJEMEN GOBLOK!" INI CARA KING ABDI BIKIN F&B LADANG CUAN MILYARAN🤑
- Waktu Sangat Istimewa yang Sering Terlalaikan - Ustadz Adi Hidayat
Key Details
ah Inspiratif Rohmat [00:11]
- Rohmat menceritakan perjuangan hidupnya yang dimulai dari kemiskinan ekstrem, bahkan harus mengamen dari Jogja ke Semarang saat masih kelas 2 SD karena ayahnya yang seorang tukang becak meninggal dunia.
- Uang saku Rp200 di masa kecilnya tidak cukup untuk makan satu piring, menggambarkan "kemiskinan yang tersembunyi".
- Visi hidupnya adalah "menjaga diri dan keluarga dari api neraka", yang harus dibarengi dengan karakter yang kuat agar bermakna.
"Yang di ekosistem ini mindsetnya enggak boleh [musik] melenceng gitu."
Perjalanan Bisnis dan Bisnis MBG [02:48]
- Rohmat dan istrinya, Laila Aknia, kini fokus pada sociopreneurship, menggabungkan sosial dan entrepreneurship, dengan Laila di bidang pendidikan sosial dan Rohmat di bidang bisnis.
- Prioritas utama mereka saat ini adalah property management yang mendukung program pemerintah MBG, di mana aset mereka diubah menjadi dapur-dapur MBG.
- Rohmat memulai bisnis serius pada tahun 2013 setelah bertemu Laila, dan sempat bekerja di BUMN Energi Pertamina dari tahun 2010 hingga resign pada tahun 2020.
- Penghasilan dari Pertamina yang "gaji dua digit" pada awalnya hanya cukup untuk membiayai adik dan keluarga besar, mendorongnya untuk mencari peluang lain.
"Itu adalah top priority bisnis kami terkait dengan property management."
Keputusan Resign dan Momentum Tak Terduga [07:18]
- Bisnis properti Rohmat sempat terpuruk pada tahun 2019 akibat COVID-19, yang mendorongnya untuk mengambil keputusan resign dari Pertamina.
- Ia menyadari bahwa tanpa terjun langsung, perusahaannya mungkin tidak akan bertahan, dan ia telah menanggung biaya operasional perusahaan dengan gajinya sendiri.
- Catatan masa SMA-nya tentang impian bekerja di BUMN selama 10 tahun dan kemudian fokus bisnis catering ternyata menjadi kenyataan, namun momentumnya datang bersamaan dengan COVID-19.
- Keputusan resign diambil setelah melakukan istikharah selama 10 hari terakhir Ramadan, yang kemudian berujung pada negosiasi agar ia tidak jadi dipindahkan ke Prabumulih.
"Yang namanya sudah keputusan hasil istiarah saya enggak bisa rubah tuh ya saya harus resign gitu."
Momentum Kedua dan Perusahaan Baru [09:38]
- Momentum kedua Rohmat didapatkan bukan dari properti yang masih lesu pasca-COVID, melainkan melalui akuisisi perusahaan vendor assisting di Pertamina pada tahun 2021-2022.
- Perusahaan ini kini menjadi mitra Pertamina dan menangani proyek-proyek Pertamina, diisi oleh mantan atasan Rohmat di Pertamina.
- Ia kini menjabat sebagai presiden direktur di empat perusahaan: Abi Group (pengembangan properti Dreamland), Jackfot (sembako), Indojaya Sarana Energi (fokus oil and gas untuk Pertamina), dan Mahakarya Mitra Sinergi (pembiayaan UMKM), serta Anatolia Capital Abadi (kerjasama Indonesia-Turki).
"Artinya secara kapasitas itu luar biasa yang sudah di level."
Peran Laila dan Kehidupan Keluarga [10:48]
- Laila sempat merasa berat untuk resign dari posisi yang aman, namun ia memprioritaskan kenyamanan suaminya dalam bekerja dan memutuskan untuk ikhlas mendukungnya.
- Keluarga mereka sempat mengalami penurunan pendapatan hingga rumah beralih fungsi menjadi gudang, dan Laila sempat berjualan beras serta sembako.
- Kunci kekuatan Laila adalah keyakinan pada Allah dan mengikuti keputusan suaminya, meskipun menyadari rezeki mungkin tidak sebanyak sebelumnya.
- Meskipun Rohmat awalnya berencana punya lebih banyak waktu bersama keluarga setelah resign, kenyataannya ia justru semakin sibuk mencari ladang baru, hingga anak-anak mengeluhkan ia lebih sering di rumah saat bekerja di Pertamina.
"Kalau Abi ngambil keputusannya untuk resign, ya udah kami ngikut aja gitu."
Filosofi Bisnis MBG dan Pemberdayaan [17:20]
- Inti dari seorang entrepreneur adalah problem solving, dan bagi Rohmat, masalah terbesar yang ingin ia selesaikan adalah masalah negara melalui program MBG.
- Program MBG dilihatnya sebagai solusi untuk masalah petani di hulu (serapan hasil panen kurang) dan sumber daya manusia di hilir.
- Ia kembali menekankan pengalamannya di masa kecil yang kelam akibat kemiskinan sebagai motivasi utama keterlibatannya dalam program yang menyentuh banyak orang ini.
"Terus kemudian problem di hilirnya ya sumber daya manusia kita gitu."
Tantangan dan Transformasi MBG [19:15]
- Awalnya, brand MBG memiliki citra yang kurang baik, membuat empat perusahaan Rohmat enggan terlibat langsung.
- Rohmat bergabung pada batch kedua secara pribadi, melihat MBG sebagai masalah yang harus diatasi, bukan sekadar peluang bisnis.
- Diskusi dengan pihak BGN mengungkapkan bahwa MBG adalah program jangka panjang untuk Indonesia Emas 2045, menyasar ibu hamil, balita, anak PAUD, TK, hingga SMA, dengan tujuan peningkatan SDM.
- Program ini dinilai luar biasa karena melibatkan 47 relawan dan 3 ahli dari BGN yang menggerakkan mentalitas dan menciptakan pergerakan ekonomi di sisi midstream dan hilir.
"Goals-nya adalah memang peningkatan SDM dan kalau bicara negara kualitas yang harus dijaga itu bukan SDA-nya atau apa, tapi SDM-nya yang lolanya ini gitu."
Dampak MBG pada Bisnis dan Sosial [23:09]
- Konsep entrepreneurship sebagai problem solving mendorong Rohmat untuk mengatasi rantai masalah melalui bisnis MBG, yang kini mendukung yayasan pendidikan yang didirikan Laila.
- Yayasan Albina mampu menutupi operasional sekolah, memberikan pendidikan gratis untuk anak yatim, dan berencana memberikan beasiswa bagi mahasiswa PTN.
- Dana dari program MBG, yang sebagian besar berasal dari kontribusi masyarakat, mem-backup biaya operasional perusahaan-perusahaan Rohmat, sehingga mereka bisa fokus pada bisnis inti masing-masing.
- Program MBG juga menunjukkan dampak positif pada UMKM, dengan peningkatan omset yang signifikan bagi para pemasok, bahkan membuka lapangan kerja baru.
"Apakah ke bisnis kita tumbuhnya luar biasa? Saya enggak mengarah ke sana tuh kalau di bisnis."
Komitmen Pendidikan Berkelanjutan [27:56]
- Laila menjadi kepala sekolah di Albina Preschool dan Kutab Albina, dengan fokus pada penanaman kecintaan pada Al-Qur'an dan hafalan.
- Idealisme ini lahir dari pengalamannya sebagai guru dan melihat keterbatasan sekolah yang ada, yang membuatnya ingin menciptakan sekolah berkualitas dengan biaya terjangkau.
- Kualitas pendidikan di Albina diukur dari kualitas anak-anak mereka sendiri yang bersekolah di sana.
"Anak saya sekolah di situ juga. Dua anak kami sekolah di situ."
Struktur MBG dan Anggaran [29:25]
- Anggaran MBG dianggap sudah melalui kajian mendalam oleh BGN, dengan penyesuaian harga yang mengakomodir daerah-daerah yang sulit seperti Papua.
- MBG bukan murni bisnis, melainkan gerakan sosial komersial yang bertujuan memberikan manfaat bagi koperasi dan masyarakat luas, sejalan dengan visi "Indonesia Emas 2045".
- Yayasan yang menerima dana dari BGN harus menyiapkan diri dengan dapur yang memenuhi standar BGN.
"Jadi memang ini yang disebut momentum sama hikmah yang kadang saya ketawa sendiri, Mas."
Perputaran Dana dan Dampak Luas MBG [31:04]
- Program MBG memiliki keunikan karena pemodal awal bukan dari negara, melainkan dari masyarakat yang memiliki dana idle, yang kemudian diputar untuk membiayai program pemerintah.
- Perputaran dana sebesar puluhan triliun rupiah dari sekitar 20.000 dapur MBG ini memberikan manfaat ekonomi dan sosial yang luas.
- Rohmat menekankan bahwa program ini harus dikawal bersama agar visinya yang mulia tercapai.
"Jadi memang ya larinya ya kalau yang di saya pertama adalah memang buat sosial ya. Yang kedua ya buat investasi tuh."
Mindset dan Visi MBG [38:01]
- Rohmat mengingatkan bahwa aset yang paling berharga adalah yang "senyap" dan bermanfaat luas, bukan sekadar memiliki banyak dapur MBG.
- Visi besar pemerintah harus dibarengi dengan karakter yang kuat agar tidak sia-sia, dan mereka yang berada dalam ekosistem MBG harus menjadi sistem pendukung pemerintah.
- Mindset dalam ekosistem MBG tidak boleh melenceng, melainkan fokus pada berbagi dan memberikan dampak finansial yang bermanfaat bagi orang lain.
"Jangan sampai yang teman-teman yang sudah masuk di dapur MBG tidak bisa proper tuh menjalankan rantai MBG ini, gitu."
Perjalanan Cinta dan Keyakinan Laila [39:36]
- Laila awalnya tidak memikirkan pernikahan, fokus pada skripsi dan karier, serta memiliki target menikah muda di usia 19 tahun untuk mendampingi anak-anak saat ia masih muda.
- Ia bertemu Rohmat melalui perantaranya dan awalnya tidak tertarik, namun keyakinan dari guru ngajinya dan proses istikharah membawanya untuk mencoba.
- Rohmat, yang ternyata seorang mualaf, sempat membuat Laila ragu, namun ia belajar untuk tidak menilai seseorang dari penampilan luarnya saja.
"Yang penting mau memulai belajar dulu."
Hijrah Laila dan Pengalaman Panti Asuhan [43:38]
- Laila menceritakan pengalamannya dibesarkan di lingkungan yang harmonis antara Muslim dan non-Muslim di pinggiran sungai di Jogja.
- Ia memutuskan menjadi mualaf di kelas 5 SD setelah ayahnya meninggal, namun baru menyadari banyak hal yang perlu dipelajarinya setelah menikah.
- Setelah ayahnya meninggal, ia sempat dititipkan di panti asuhan Kristen di Bantul, namun ia memilih untuk "minggat" karena tidak bisa meninggalkan keyakinan Islamnya dan harus mengikuti ritual non-Muslim.
"Jadi, saya mau di sini cuma saya tetap Islam gitu di Panti Asuhan Kristen tu saya negya itu kalau enggak boleh ya enggak enggak ke sana tuh gitu."
Prinsip Menjaga Diri dan Keluarga [45:44]
- Dua hal yang harus dijaga adalah Al-Qur'an dan Sunnah, dengan niat yang bagus untuk memberi manfaat luas.
- Mengacu pada QS At-Tahrim ayat 6, prioritas utama adalah menjaga diri sendiri, kemudian keluarga, baru kemudian memberi manfaat bagi orang banyak.
- Penting untuk menjaga keseimbangan antara memberikan manfaat bagi orang lain dan memastikan keluarga, terutama anak-anak, memiliki nilai-nilai yang baik.
"Boleh bermanfaat buat orang lain, tapi jangan lupakan dulu nih keluarganya udah harus terselamatkan dulu gitu intinya."