Menu
DAEHOON! LOE BIKIN GUE MAU NANGIS‼️ AHH!! Love this Warm Family!

DAEHOON! LOE BIKIN GUE MAU NANGIS‼️ AHH!! Love this Warm Family!

Deddy Corbuzier

4,515,964 views • 8 days ago Save 73 min 9 min read

Video Summary

Seorang ayah tunggal asal Korea Selatan yang tinggal di Indonesia berbagi pengalaman merawat ketiga anaknya setelah perceraiannya. Ia menekankan betapa pentingnya menjadi ayah yang hadir dan bertanggung jawab, bahkan ketika menghadapi kelelahan mental dan emosional. Ia mengungkapkan bahwa dirinya secara rutin mengunjungi psikiater untuk mengatasi parental burnout, sebuah langkah yang ia anggap rasional dan bukan hal tabu, demi kesejahteraan anak-anaknya.

Perjalanan hidupnya sangat dipengaruhi oleh didikan neneknya yang kuat dan mandiri, menanamkan nilai tanggung jawab yang mendalam. Ia juga membandingkan budaya parenting di Korea dan Indonesia, menyoroti tekanan kompetitif di Korea yang menurutnya dapat memicu stres dan perilaku negatif, berbeda dengan pendekatan yang lebih santai di Indonesia. Meski demikian, ia tetap bangga dengan kemajuan Korea Selatan, namun berpendapat bahwa kebahagiaan sejati tidak harus dicapai dengan mengorbankan orang lain.

Short Highlights

  • Peran Ayah Tunggal
    • Tantangan Merawat Tiga Anak
    • Kesehatan Mental Ayah
    • Pengaruh Didikan Nenek
    • Perbandingan Budaya Parenting
    • Tekanan Kompetitif di Korea
    • Kebahagiaan vs. Kesuksesan

Key Details

Peran Ayah Tunggal dan Kebahagiaan [00:00:00]

  • Sang ayah mengungkapkan bahwa melihat anak-anaknya mencium pipi ayahnya adalah hal biasa di keluarganya.
  • Ia merasa menjadi salah satu ayah paling bahagia, dengan kebahagiaan yang berlipat ganda dari ketiga anaknya.
  • Meski lelah, ia merasa sangat bahagia dan bangga dengan karakter unik setiap anaknya.

    "Bahagianya tiga kali lipat bahagia tiga kali lipat capek juga tiga kali lipat bahagia tiga kali lipat bahagia tiga kali di ciumnya tiga kali lipat di peluk tidur tiga kali lipat"

Kedewasaan Anak Pasca Perceraian [00:05:15]

  • Setelah perceraian, anak sulungnya, Juno, menjadi lebih dewasa dan perhatian.
  • Juno kini lebih inisiatif membantu ayahnya dan adik-adiknya, bahkan menjadi penengah saat terjadi pertengkaran.
  • Juno menunjukkan kedewasaan dengan memahami situasi ayahnya dan membantu adik-adiknya.

    "Oh dulu dia tuh masih minta sesuatu minta kayak aku juga mau di gendong aku juga mau di ini aku juga mau di utamakan nah tapi sekarang itu kalau adik-adiknya mau di gendong dia sendiri turun dia sendiri turun dia sendiri turun dia sendiri jalan"

Peran Juno sebagai Kakak [00:06:55]

  • Juno seringkali menjadi penengah saat adiknya bertengkar, bertindak sebagai negosiator.
  • Ia rela dicakar atau dipukul oleh adiknya demi menjaga mereka, menunjukkan pemahamannya terhadap tugasnya.
  • Juno juga terkadang menggoda adiknya, namun tetap memahami apa yang diinginkan ayahnya.

    "Kalau ada tengkarannya dia tuh jadi orang tengah jadi dia yang jadi negotiator jadi basicnya dia ngebantu lu banget"

Perjuangan Menjadi Ayah Tunggal [00:10:00]

  • Sang ayah mengakui bahwa mengurus tiga anak sendirian sangat melelahkan, baik secara fisik maupun mental.
  • Ia merasa bersyukur bisa tinggal di Indonesia karena adanya bantuan, yang tidak mungkin didapatkan di Korea.
  • Ia tidak pernah menyia-nyiakan anak-anaknya dan selalu berusaha bekerja sambil menjaga mereka.

    "Capeknya tuh. Lebih. Tapi. Om Daddy. Om Daddy. Bang Daddy udah pasti paham. Itu capeknya bukan secara fisik. Secara mental. Secara mental pasti."

Mengatasi Kelelahan Mental [00:13:00]

  • Ia mengaku pernah merasa sangat down hingga mengganggu kehidupan sehari-hari dan memutuskan untuk menemui psikiater.
  • Ia melihat kunjungan ke psikiater sebagai langkah rasional untuk berjuang dan memulihkan diri, bukan karena ia lemah.
  • Ia menekankan bahwa mencari bantuan profesional bukanlah hal yang tabu dan penting untuk mencegah burnout.

    "Tapi saya buka aja ya. Saya minum. Saya ke psikiater juga. Oke. Karena apa? Bukan karena saya remah. Tapi saya mau berjuang."

Mengapa Tidak Meninggalkan Anak-Anak [00:20:00]

  • Baginya, meninggalkan anak-anak bukanlah pilihan yang pernah terlintas dalam pikirannya.
  • Ia mengibaratkan hal itu seperti menyuruh manusia makan kertas, sesuatu yang mustahil dilakukan.
  • Prinsip ini tertanam dari didikan neneknya yang mengajarkan tanggung jawab.

    "Kenapa tidak memilih meninggalkan anak-anak. Itu tidak ada di pilihan saya. Tidak ada di pilihan saya. Tidak pernah terpikirkan juga. Tidak pernah."

Pengaruh Nenek dan Nilai Tanggung Jawab [00:22:30]

  • Neneknya membesarkannya dan tujuh saudara laki-lakinya sendirian setelah kakeknya meninggal.
  • Neneknya bekerja keras untuk menafkahi keluarga dan mengajarkan nilai tanggung jawab yang kuat.
  • Ia belajar dari neneknya bahwa setiap masalah yang dibuat harus diselesaikan sendiri.

    "Dia gak pernah marahin. Dia gak pernah menyalahkan. Orangnya. Udah. Tapi. Dia tuh kalau bohong. Abis. Abis. Pukul dengan yang apapun ada di depan tangan dia."

Belajar dari Anak-Anak [00:28:00]

  • Anak-anaknya adalah pilar hidupnya yang membuatnya menjadi orang yang lebih baik, sabar, dan pintar.
  • Ia mengibaratkan dirinya sebagai bulan yang mengelilingi bumi (anak-anaknya), yang keberadaannya bergantung pada mereka.
  • Ia merasa anak-anaknya adalah hadiah dan reward dalam hidupnya.

    "Semuanya gara-gara anak-anak. Mereka itu. Pilar. Hidup saya. Pilar hidup? Pilar. Wow. Kalau gak ada mereka gak akan ada saya."

Perbedaan Pola Asuh Ayah dan Kakek [00:33:00]

  • Ayahnya dianggap sebagai kakek yang baik, namun tidak sebagai ayah yang baik baginya.
  • Ayahnya jarang mengungkapkan rasa sayang dan lupa ulang tahunnya.
  • Ia belajar dari anak-anaknya pentingnya mengucapkan 'Aku sayang kamu' dan meminta maaf.

    "Tapi. You know what. Tapi justru gue tuh belajar dari anak-anak gue juga begini. Sebenernya jadi orang tua tuh. Satu penting. Saying I love you is very important."

Teori Perkembangan Anak dan Orang Tua [00:37:00]

  • Anak awalnya menganggap orang tua sebagai Tuhan, lalu sebagai 'jahat' saat dilarang, dan akhirnya sebagai manusia.
  • Tahap terakhir adalah ketika anak menyadari orang tuanya juga manusia yang punya kekurangan dan berjuang.
  • Momen ini krusial untuk evaluasi hubungan orang tua-anak dan menentukan rasa cinta.

    "He will think that you are God. Hmm. Why? Karena. Eh. Apapun yang dia hidup. Dia dapat dari lu. Jadi Tuhan dalam mengerti."

Perjuangan Ayah Sang Ayah [00:42:00]

  • Ayahnya adalah tipe boomer dad yang tidak ekspresif namun berjuang menafkahi keluarga.
  • Ia melihat ayahnya menangis untuk pertama kali, yang membuatnya memahami perjuangan ayahnya dan melihatnya sebagai manusia.
  • Momen ini memperbaiki hubungan mereka dan membuatnya merasa dekat dengan ayahnya.

    "Tapi. Ada saat. Dia. Menurut aku. Dia tuh. Hmm. Titik yang terlendah. Di pada saat. Pada saat itu. Dan. Saya melihat dia nangis."

Perbedaan Budaya Parenting: Gula dan Gadget [00:50:00]

  • Parenting Korea sangat sensitif terhadap gula, bahkan melarangnya hingga usia 3 tahun.
  • Penggunaan smartphone dan iPad juga dibatasi hingga anak masuk SD untuk mencegah kecanduan dan mendorong sosialisasi.
  • Ia percaya anak harus dibiarkan penasaran dan belajar dari dunia nyata, bukan dari layar.

    "Dilarang kasih HP. Sampai mereka masuk. SD. Oke. Oke. Oke. Karena itu. Bikin kecanduan."

Keras vs. Marah dalam Mendidik Anak [00:56:00]

  • Ia membedakan antara ketegasan dan kemarahan dalam mendidik anak.
  • Ketegasan diperlukan agar anak tidak lari dari masalah atau menyalahkan orang lain.
  • Ia tidak memukul anaknya, namun akan marah jika mereka mencoba lari dari tanggung jawab.

    "Karena bagi saya tegas. Beda sama marah loh. Iya. Sama tegas itu bisa kita cinta anak-anak kasih sayang yang penuh dan sekaligus tegas juga bisa."

Pengalaman Hukuman Fisik di Masa Lalu [01:00:00]

  • Baik di Korea maupun Indonesia, hukuman fisik di sekolah pernah umum terjadi.
  • Ia dan ayahnya termasuk generasi terakhir yang mengalami hukuman fisik.
  • Kini, hukuman fisik tidak lagi bisa diterima dan ada metode pengajaran lain yang lebih baik.

    "Di Korea juga gitu? Iya. Di Korea juga gitu? Iya. Sekarang gak bisa dong di Korea. Sekarang kalau gitu langsung. Masuk polisi."

Perbandingan Kehidupan di Korea dan Indonesia [01:10:00]

  • Kehidupan di Korea sangat kompetitif, mulai dari pendidikan hingga penampilan, yang bisa menyebabkan stres.
  • Di Indonesia, ia merasa lebih nyaman dan bahagia, serta tidak ingin meraih kesuksesan dengan merugikan orang lain.
  • Ia melihat masyarakat Korea seringkali terlalu fokus pada kesuksesan materi dan lupa menikmati hidup.

    "Di Korea itu memang lebih ketat hidupnya. Contoh? Semua sih sih. Jadi cari kerja atau enggak sekolah dan segala macam. Itu lebih ketat."

Tekanan Sosial dan Budaya di Korea [01:15:00]

  • Budaya Korea yang sangat kompetitif menciptakan standar tinggi dan tekanan untuk menjadi 'manusia sempurna'.
  • Hal ini dapat menyebabkan stres, kecemasan, dan bahkan bunuh diri yang tinggi.
  • Ia merasa kasihan pada orang Korea karena tidak bisa menikmati hidup akibat tekanan sosial tersebut.

    "Korea itu memaksakan manusia jadi manusia sempurna. Do you know what started?"

Perubahan Sosial di Korea [01:25:00]

  • Belakangan ini, mulai ada perubahan di Korea, di mana banyak orang mencari kebahagiaan di luar kesuksesan materi.
  • Beberapa orang Korea memilih tinggal di Bali untuk hidup lebih bahagia dan tenang.
  • Kesadaran akan pentingnya kebahagiaan pribadi mulai tumbuh di masyarakat Korea.

    "Tapi kabar baiknya Belakangan ini nih Belakangan ini banyak juga Banyak perubahan bang Banyak yang nyadar nih Banyak yang nyadar"

Perbedaan Budaya Kencan dan Pernikahan [01:30:00]

  • Budaya kencan di Korea sangat terstruktur dengan tradisi seperti couple items dan perayaan hari jadi.
  • Pernikahan di Korea seringkali dianggap sebagai 'bisnis' yang menuntut keadilan dan kesetaraan finansial.
  • Tradisi lama seperti split bill bahkan berlaku hingga pernikahan, berbeda dengan budaya Indonesia.

    "Tapi kalau udah Pacaran Coba pacaran gimana Mungkin cowok barangnya lebih Berat Tapi cewek juga harus kasih compliment"

UMKM Indonesia dan Produk Lokal [01:40:00]

  • Ia memperkenalkan produk UMKM Indonesia, termasuk cokelat dari Kalimantan Selatan (Kulanta) dan keripik kentang (Bibi Snack).
  • Ia juga menunjukkan mainan edukatif gipsum lukis untuk kreativitas anak.
  • Produk-produk ini dibuat dengan cerita dan harapan, seperti investasi untuk masa depan anak.

    "Ini coklat dari Kalimantan Selatan Oh wow Apa namanya Kulanta Kulanta Jadi ini bener dari Kulanta Program budaya Kakao Lestari"

Pengalaman Pribadi di Korea [01:45:00]

  • Ia merasa lebih bahagia tinggal di Indonesia dibandingkan Korea karena tekanan sosial yang lebih rendah.
  • Ia menganggap turis di Korea bisa menikmati karena tidak perlu bekerja dan bersaing.
  • Ia menyayangkan masyarakat Korea yang tidak bisa menikmati hidup karena terlalu fokus pada persaingan.

    "Kalau saya Beneran lebih seneng disini Tapi memang Kalau Liburan Ya seneng Tapi Ya seperti saya bilang Kadang Itu Apalagi sama anak-anak ya"

Perbandingan Kebisingan Apartemen [01:48:00]

  • Di Korea, kebisingan antar apartemen bisa menjadi masalah serius, bahkan memicu konflik.
  • Struktur beton apartemen yang tipis membuat suara mudah terdengar, berbeda dengan di Indonesia.
  • Ia membela orang Korea, menyatakan bahwa masalah ini lebih disebabkan oleh struktur sosial dan bangunan, bukan individu.

    "Bahkan Tahu gak bang Di korea ada kasus Pembunuhan Karena Karena Lantai atasnya berisik Bayangin bang Kalau di Indonesia Ada kasus kayak gitu"

Harapan dan Perubahan Masa Depan [01:55:00]

  • Ia berharap anak-anaknya bisa memilih kewarganegaraan mereka sendiri saat dewasa.
  • Ia percaya bahwa kebahagiaan sejati dapat ditemukan di luar kesuksesan materi.
  • Ia optimis bahwa masyarakat Korea akan terus berubah ke arah yang lebih baik, lebih menghargai kebahagiaan individu.

    "Jadi saya kasih sedikit Belaan Buat Orang Korea Tentang banyak Miskonsepsi Jadi Ya tapi Salah mah salah Salah mah salah Tapi Memang Kadang Korea itu Society bikin Orang evil"

Bucket List Tercapai [02:00:00]

  • Ia mengungkapkan bahwa diundang ke podcast ini adalah salah satu bucket list-nya yang tercapai.
  • Ia merasa terhormat bisa berbagi cerita dan pengalamannya sebagai ayah tunggal.
  • Ia percaya bahwa cinta dari anak-anaknya adalah hal yang paling berharga.

    "Dan Bener-bener tercapai Thank you It's an honor for me Tapi I really mean it It's a very nice conversation And you're a very nice person Very good dad"

Other People Also See

Sudden Wealth Syndrome | Animal Spirits 485
Sudden Wealth Syndrome | Animal Spirits 485
The Compound • 3,767 views Save 53 min 9 min read
Are we SUCKED
Are we SUCKED
Meet Kevin • 4,127 views Save 15 min 4 min read
Financial Audit's Most Ghetto Couple
Financial Audit's Most Ghetto Couple
Caleb Hammer • 24,762 views Save 87 min 8 min read
The Unknowns of Motherhood
The Unknowns of Motherhood
Call Her Daddy • 37,070 views Save 36 min 11 min read