Menu
Outlook Pasar Modal 2026 dari Kacamata Michael Yeoh | THE FUNDAMENTALS

Outlook Pasar Modal 2026 dari Kacamata Michael Yeoh | THE FUNDAMENTALS

IDX CHANNEL

85,341 views 7 months ago Save 26 min 7 min read

Video Summary

Pasar modal Indonesia pada tahun 2025 menunjukkan kinerja yang luar biasa, ditandai dengan kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lebih dari 20% setelah periode volatilitas di awal tahun. Kenaikan ini didorong oleh masuknya dana asing ke saham-saham konglomerasi yang masuk dalam indeks MSCI dan FTSE. Fenomena ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya di mana emerging market seringkali tertinggal dibandingkan pasar negara maju. Salah satu fakta menariknya adalah bahwa dana investasi pasif secara konsisten mengungguli dana aktif dalam jangka waktu 10 hingga 20 tahun terakhir.

Memasuki tahun 2026, prospek pasar modal Indonesia diprediksi akan semakin positif, bahkan berpotensi lebih kuat dari 2025. Hal ini didukung oleh kebijakan pemerintah yang mulai terasa dampaknya, potensi masuknya dana asing aktif, dan pergeseran investor dari obligasi ke ekuitas seiring penurunan suku bunga. Meskipun ada potensi ancaman dari rebalancing MSCI akibat perubahan perhitungan free float dan potensi masuknya Vietnam ke dalam emerging market, optimisme tetap tinggi untuk pertumbuhan pasar modal di tahun mendatang, terutama di sektor perbankan dan saham konglomerasi.

Short Highlights

  • Dana investasi pasif terbukti lebih berkinerja dibandingkan dana aktif dalam jangka waktu 10-20 tahun terakhir.
  • IHSG mengalami kenaikan lebih dari 20% di tahun 2025 setelah koreksi signifikan di awal tahun, menjadikannya salah satu indeks terbaik di Asia.
  • Fenomena masuknya saham konglomerasi ke indeks MSCI dan FTSE menjadi penggerak utama kenaikan IHSG di 2025, menarik aliran dana asing sebesar lebih dari Rp15 triliun.
  • Dampak kebijakan Purbaya diprediksi baru akan terefleksi penuh di tahun 2026, berpotensi mendorong sektor perbankan dan consumer goods.
  • Prospek pasar modal Indonesia di 2026 dinilai optimis, bahkan berpotensi lebih unggul dari 2025, didorong oleh penurunan suku bunga, potensi masuknya dana asing aktif, dan pergeseran aset dari obligasi ke ekuitas.

Key Details

Kinerja Investasi Pasif vs Aktif [00:05]

  • Investasi pasif, seperti reksa dana indeks, secara historis menunjukkan kinerja yang lebih baik daripada investasi aktif (loncat sana loncat sini) dalam jangka waktu 10 hingga 20 tahun ke belakang.
  • Tren ini mengakibatkan popularitas indeks fund seperti MSCI dan FTSE meningkat dalam 1-2 tahun terakhir.

"Dan ternyata secara fakta kalau kita tarik 10 sampai 20 tahun ke belakang, dana investasi yang bersifat pasif ternyata lebih perform, Pak, daripada yang loncat sana loncat sini."

Kinerja Pasar Modal Indonesia 2025 [00:57]

  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 8.646 pada tahun 2025, mencatat kenaikan signifikan lebih dari 20% dibandingkan penutupan tahun 2024.
  • Performa IHSG di tahun 2025 menjadikannya salah satu indeks paling perform di Asia.
  • Periode Januari hingga April 2025 menunjukkan koreksi IHSG yang cukup dalam, bahkan sempat minus belasan persen hingga di bawah 6.000, namun diakhiri dengan kenaikan yang membahagiakan.

"Jadi memang tahun 2025 cukup volatil, tapi ending membahagiakan buat kita semua. Happy ending."

Analisis Koreksi IHSG Januari-April 2025 [02:50]

  • Koreksi besar-besaran di IHSG pada Januari-April 2025 terjadi secara unik di Indonesia, tidak terjadi di pasar negara lain seperti Malaysia, Singapura, China, Taiwan, Korea, Jepang, Brunei, dan Thailand.
  • Alasan utama koreksi ini adalah ketidaksukaan investor asing terhadap isu politik dan intervensi pemerintah terhadap iklim bisnis, terutama terkait program ambisius (MBG) yang berpotensi mengganggu APBN dan ekonomi.
  • Investor yang kecewa atau pesimis sudah melakukan aksi jual atau profit taking secara masif, sehingga hal ini sudah di-price in dan menyisakan investor baru, termasuk investor ritel.

"Jadi foreign itu paling gak suka kalau seandainya bisnis iklim bisnis yang ada di satu negara diintervensi oleh pemerintah."

Fenomena IHSG Mencapai All-Time High di 2025 [04:08]

  • IHSG mencatatkan rekor mencapai all-time high sebanyak 24 kali sepanjang tahun 2025.
  • Fenomena ini dikaitkan dengan kebijakan Purbaya yang dianggap tepat sasaran dalam mendukung suplai moneter (M2) dan mendorong permintaan UMKM, meskipun dampaknya baru akan terefleksi penuh dalam dua kuartal ke depan.
  • Kenaikan IHSG ini lebih banyak didorong oleh saham-saham konglomerat yang memiliki kapitalisasi pasar besar (di atas 100 triliun rupiah), yang menarik minat investor asing melalui indeks MSCI dan FTSE.
  • Masuknya saham konglomerasi seperti DSSA dan CUAN ke dalam indeks MSCI dan FTSE mengundang aliran dana asing sebesar Rp11 triliun (DSSA) dan Rp3 triliun (CUAN).

"Nah, tersisalah investor-investor yang baru termasuk salah satunya retail kita."

Perbandingan Kinerja Emerging Market vs S&P 500 (2008-2024) [09:31]

  • Periode 2008-2024 merupakan masa yang sulit bagi emerging market, di mana S&P 500 mengungguli secara signifikan.
  • Kenaikan S&P 500 dalam periode tersebut mencapai 460%, sementara emerging market hanya 38%, menunjukkan kesenjangan lebih dari 10 kali lipat.
  • Kinerja superior S&P 500 didorong oleh perusahaan-perusahaan teknologi yang menjadi pemimpin global dan menarik investasi dunia.

"Belasan tahun kita kalah dengan S&P 500. Kenapa? Karena bursa di Dow Jones, di Nasdaq, di Eropa itu company-company mereka benar-benar perform, Pak. Karena mereka tech leader."

Pergeseran Kinerja di 2025 dan Outlook 2026 [11:00]

  • Tahun 2025 menandai tahun pertama sejak krisis subprime mortgage 2008 di mana emerging market mengungguli S&P 500.
  • Siklus ini diprediksi akan berlanjut, menjadikan emerging market sebagai awal dari pergeseran yang lebih besar.
  • Potensi bubble pada saham teknologi di Amerika Serikat dan koreksi yang mungkin terjadi dapat mendorong investor mencari aset di pasar berkembang seperti Indonesia.
  • Kinerja pasar modal Indonesia di 2026 diprediksi bisa lebih kencang lagi dibandingkan 2025 karena efek kebijakan Purbaya yang baru akan mulai terasa dampaknya secara penuh.

"I think emerging market is just the start. Karena kita tahu apa yang terjadi di Amerika."

Dampak Kebijakan Pemerintah dan Sektor Potensial di 2026 [14:00]

  • Era kepemimpinan Purbaya, yang baru berjalan sekitar dua kuartal, diprediksi akan memberikan dampak signifikan di tahun 2026.
  • Sektor perbankan dan consumer goods, yang merupakan penopang utama ekonomi, diharapkan akan terdorong.
  • Investor disarankan untuk mempertimbangkan saham konglomerasi untuk momentum jangka pendek dan saham fundamental (big bank, blue chip) untuk jangka panjang.
  • Sektor energi dan komoditas, terutama emas, diperkirakan masih akan menarik, meskipun fenomena emas yang naik bersamaan dengan saham menjadi anomali.

"Nah, bayangkan kalau seandainya perbankannya ikut jalan, consumer ikut jalan, Purbaya efeknya mulai kerasa dan konglonya juga ikut ngedorong, justru ini bisa terjadi seperti 20 tahun lalu, Pak."

Alokasi Portofolio dan Peran Investor Aktif/Pasif di 2026 [18:28]

  • Untuk investor, perbankan seperti Bank Mandiri menawarkan peluang dividen double digit, menjadikannya pilihan menarik untuk jangka panjang.
  • Aliran dana asing diperkirakan akan masuk ke Indonesia seiring pergeseran ke emerging market, terutama ke saham blue chip.
  • BPJS yang mulai meningkatkan porsi investasinya di pasar modal juga menjadi sinyal positif.
  • Investor perlu mempertimbangkan alokasi portofolio yang seimbang antara saham konglomerasi (momentum) dan saham fundamental (jangka panjang), serta memperhatikan time frame investasi masing-masing.
  • Perbedaan mendasar antara investor aktif (memperhatikan valuasi) dan pasif (memperhatikan market cap dan likuiditas) akan mempengaruhi pilihan saham.

"Jadi, kalau saya lihat 2026 itu akan ada lanjutan, Pak. Akan akan masuk ke era bons koreksi tapi equity yang berjaya karena bons dan equity itu selalu dua arah."

Ancaman Q1 2026 dan Potensi Pemulihan di Q2 [23:23]

  • MSCI berencana memberlakukan aturan baru terkait corporate free float yang dapat menyebabkan outflow dana asing sebesar Rp50-60 triliun dari IHSG di Q1 2026.
  • Potensi masuknya Vietnam sebagai emerging market juga dapat mengurangi porsi Indonesia di indeks global, mengambil porsi dari negara tetangganya.
  • Namun, Q2 2026 diprediksi akan membaik seiring mulai terefleksinya efek kebijakan Purbaya dan pembuktian fundamental saham.

"Nah, itu ancaman untuk Q1 kita. Oke, Q1, Q2. Kalau Q2 akan membaik nih menurut saya."

Peran Investor Ritel dan Prospek Pasar di 2026 [30:32]

  • Jumlah investor pasar modal, termasuk investor ritel, terus bertambah, dengan proyeksi pertumbuhan yang signifikan di tahun 2026.
  • Investor ritel diharapkan dapat terus mencetak keuntungan, namun perlu berhati-hati agar tidak menjadi tamak dan tetap memperhatikan risiko.
  • Pemicu utama pergerakan pasar di 2026 diharapkan datang dari investor asing pasif yang mengikuti indeks, dan potensi masuknya investor asing aktif akan semakin memperkuat pasar.

"Jadi ee berhubung ekonomi kita lagi mandek di luar, banyak orang yang justru berhasil mendapatkan gain itu di bursa Pak. Nah, itu yang yang ada potensi terjadi lanjutan di tahun 2026."

Other People Also See